4 Aturan Hidup Suku Kubu, Dilarang Berduaan Hingga Pindah Jika Keluarga Meninggal
Aturan Hidup Suku Kubu atau Suku Anak Dalam--
Kegiatan semacam ini mereka sebut Melangun. Mereka akan tetap Melangun, hingga kesedihan akibat ditinggal orang yang dicintai hilang.
3. Larangan Berduaan
Dalam komunitas Suku Anak Dalam memiliki aturan keras mengenai laki-laki dan perempuan. Mereka melarang keras laki-laki dan perempuan berduaan.
Bagi yang ketahuan akan dikenakan hukuman kawin paksa. Namun, sebelum dikawinkan, mereka terlebih dahulu akan dihukum cambuk rotan karena dianggap memalukan orang tua.
Selain itu, terdapat aturan lain. Bagi pria asing yang masuk hutan harus ditemani pria dari Suku Anak Dalam.
Setelah masuk pun, mereka harus meneriakkan “Ado jentan kiuna? (ada laki-laki di sana?)” untuk memastikan apakah ada pria lain di sana.
Jika sudah mendapat jawaban dari yng diteriaki, mereka baru diperbolehkan masuk ke dalam hutan.
4. Mandi
Suku Anak Dalam hidup bersahaja dengan alam. Mereka hidup secara sederhana di dalam hutan.
Mereka terbiasa tidur dengan merebahkan diri di tanah. Namun, ada beberapa kelompok yang membangun tenda di dalam hutan.
Untuk urusan mandi, mereka memanfaatkan sungai yang ada di hutan maupun di sekitar tempat tinggal mereka.
Mereka tidak perlu menggunakan sabun atau peralatan mandi lainnya. Mereka cukup menyeburkan diri ke sungai hingga mereka anggap bersih.
BACA JUGA:5 Teori Asal Usul Suku Jawa, Masyarakat Peradaban Paling Maju
Kembali ke sejarah suku anak dalam atau suku kubu, hingga saat ini belum ada bukti tertulis dari mana asal Suku Anak Dalam. Oleh sebab itu sejarah mengenai Suku Anak Dalam diperoleh dari tradisi lisan dan cerita yang ada di masyarakat.
Menurut tradisi lisan tersebut, nenek moyang Suku Anak dalam berasal dari Maalau Sesat. Mereka melakukan pelarian ke hutan rimba yang ada di Air Hitam, Taman Nasional Bukit Duabelas. Orang Maalau Sesat yang lari tersebut kemudian disebut sebagai Moyang Segayo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: