RADARMUKOMUKO.COM - Perubahan bentuk gigi yang tampak semakin maju ke depan sering kali disadari secara perlahan. Awalnya hanya terasa sebagai ketidakteraturan kecil, lalu berangsur memengaruhi penampilan wajah, cara berbicara, hingga kenyamanan saat mengunyah.
Kondisi ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang dipengaruhi oleh kebiasaan, pertumbuhan, dan kondisi kesehatan mulut. Di banyak kasus, perubahan posisi gigi menjadi cerminan dari interaksi kompleks antara faktor biologis dan perilaku sehari-hari.
Dokter gigi spesialis ortodonti, drg. Andriani Fajrin, Sp.Ort, menjelaskan bahwa gigi yang terdorong maju biasanya berkaitan dengan ketidakseimbangan ruang di dalam rahang. Saat ukuran rahang tidak sebanding dengan jumlah atau ukuran gigi, tubuh mencari jalan keluar dengan mendorong gigi ke arah depan. “Ini sering terjadi sejak masa pertumbuhan, tetapi dampaknya baru terasa jelas ketika dewasa,” ujarnya dalam sebuah seminar kesehatan gigi di Jakarta.
Faktor genetik menjadi salah satu penyebab utama. Bentuk rahang, ukuran gigi, dan pola pertumbuhan tulang wajah banyak diwariskan dari orang tua. Anak yang memiliki rahang relatif kecil dengan ukuran gigi besar berisiko mengalami gigi berjejal dan terdorong ke depan.
Kondisi ini dapat terlihat sejak masa kanak-kanak, terutama saat gigi permanen mulai tumbuh menggantikan gigi susu. Tanpa penanganan dini, perubahan posisi gigi akan menetap hingga usia dewasa.
Selain faktor keturunan, kebiasaan sejak kecil turut memainkan peran penting. Mengisap jempol, menggunakan dot terlalu lama, atau mendorong lidah ke arah gigi depan saat menelan dapat memberikan tekanan konstan.
Tekanan kecil yang terjadi berulang dalam waktu lama cukup untuk menggeser posisi gigi. Menurut drg. Andriani, banyak orang meremehkan kebiasaan ini karena tidak menimbulkan rasa sakit. “Padahal, efeknya baru terlihat setelah bertahun-tahun,” katanya.
Cara bernapas juga berpengaruh. Kebiasaan bernapas melalui mulut, terutama pada anak-anak yang memiliki masalah hidung atau amandel, dapat mengubah posisi rahang dan gigi.
Saat mulut sering terbuka, lidah tidak berada pada posisi ideal untuk menahan gigi, sehingga gigi depan lebih mudah terdorong ke arah luar. Dalam jangka panjang, kondisi ini tidak hanya memengaruhi susunan gigi, tetapi juga profil wajah.
Kehilangan gigi tanpa penggantian menjadi faktor lain yang kerap luput dari perhatian. Ketika satu atau beberapa gigi hilang, ruang kosong yang tersisa akan memicu pergeseran gigi di sekitarnya.
Gigi cenderung bergerak untuk mengisi ruang tersebut, termasuk bergerak ke arah depan. Proses ini berlangsung perlahan dan sering tidak disadari hingga perubahan bentuk gigi terlihat jelas.
Usia dewasa bukan berarti aman dari perubahan posisi gigi. Seiring bertambahnya usia, kepadatan tulang rahang dapat menurun. Kondisi ini membuat gigi lebih mudah bergerak, terutama jika disertai penyakit gusi.
Periodontitis, misalnya, dapat melemahkan jaringan penyangga gigi. Ketika penyangga melemah, gigi kehilangan stabilitas dan lebih mudah bergeser dari posisi semula.
Ahli periodonsia, drg. Rina Setyawati, Sp.Perio, menyebutkan bahwa kesehatan gusi memiliki peran krusial dalam menjaga posisi gigi. “Gusi dan tulang adalah fondasi.
Jika fondasi ini rusak, gigi akan berubah posisi, termasuk bergerak ke depan,” jelasnya. Oleh karena itu, perawatan gusi yang baik menjadi bagian penting dalam mencegah perubahan susunan gigi.