Jejak Karomah Umar bin Khattab dalam Kepemimpinan dan Keteguhan Iman

Jejak Karomah Umar bin Khattab dalam Kepemimpinan dan Keteguhan Iman

Jejak Karomah Umar bin Khattab dalam Kepemimpinan dan Keteguhan Iman--

RADARMUKOMUKO.COM -  Langit Madinah pagi itu tampak cerah ketika suara azan menggema dari Masjid Nabawi. Di kota yang menjadi pusat peradaban Islam tersebut, seorang lelaki berwajah tegas berjalan menyusuri lorong-lorong pasar, memastikan tak ada kecurangan dalam timbangan dan tak ada rakyat yang terabaikan. 

Dialah Umar bin Khattab, sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal keras dalam prinsip, tetapi lembut dalam kepedulian. Dalam sejarah Islam, namanya bukan hanya dikenang sebagai khalifah kedua, melainkan juga sebagai pribadi yang memiliki karomah kemuliaan dan keistimewaan yang Allah anugerahkan kepada hamba pilihan-Nya.

Umar bin Khattab lahir di Makkah dari Bani Adi, salah satu kabilah Quraisy. Ia memeluk Islam pada tahun keenam kenabian setelah sebelumnya dikenal sebagai penentang dakwah Rasulullah.

Peristiwa keislamannya menjadi titik balik penting bagi kaum Muslimin yang saat itu berada dalam tekanan. Sejak saat itu, Umar menunjukkan keberanian dan keteguhan luar biasa dalam membela agama. Rasulullah SAW bahkan menyebutnya sebagai pribadi yang mendapat ilham kebenaran dalam hatinya.

Salah satu karomah Umar yang paling masyhur terjadi pada masa kekhalifahannya. Dalam sebuah riwayat yang banyak dikutip para ulama sejarah seperti Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah, Umar pernah berkhutbah di Madinah. 

Di tengah khutbahnya, ia tiba-tiba berseru, “Ya Sariyah, al-jabal! Ya Sariyah, al-jabal!” Seruan itu merujuk kepada Sariyah bin Zunaim, panglima pasukan Muslim yang sedang berperang di wilayah Persia, jauh dari Madinah. Umar memperingatkan agar Sariyah berlindung di gunung karena musuh berada di belakang mereka.

Beberapa waktu kemudian, kabar dari medan perang tiba. Sariyah mengisahkan bahwa di tengah pertempuran, ia mendengar suara Umar memperingatkannya untuk mengubah posisi pasukan. 

Ia pun segera memerintahkan tentaranya menuju gunung, dan strategi itu menyelamatkan mereka dari kepungan musuh. Peristiwa ini menjadi pembicaraan luas di kalangan sahabat dan generasi setelahnya sebagai bukti karomah yang Allah karuniakan kepada Umar.

Sejarawan Islam, Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, menjelaskan bahwa karomah tersebut bukanlah kekuatan pribadi, melainkan pertolongan Allah yang diberikan kepada hamba yang tulus dan adil. 

“Kepekaan ruhani Umar terbentuk dari ketakwaan dan kedekatannya kepada Allah. Karomah bukan tujuan, tetapi buah dari keimanan yang mendalam,” tulisnya dalam kajian tentang biografi Umar bin Khattab.

Karomah Umar juga tampak dalam ketajaman firasatnya. Dalam banyak peristiwa, pendapat Umar kemudian dibenarkan oleh turunnya wahyu. Di antaranya terkait usulan agar maqam Ibrahim dijadikan tempat shalat, perintah hijab bagi istri-istri Nabi, serta sikap terhadap tawanan Perang Badar. 

Al-Qur’an merekam beberapa ayat yang sejalan dengan pandangan Umar. Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis sahih, bahwa Allah telah menjadikan kebenaran pada lisan dan hati Umar.

Kehidupan Umar sebagai khalifah yang memerintah dari tahun 634 hingga 644 M juga menunjukkan dimensi karomah dalam bentuk keadilan yang luar biasa. Ia sering berkeliling pada malam hari untuk memastikan rakyatnya tidak kelaparan. 

Dalam sebuah riwayat yang dicatat Imam Al-Baihaqi, Umar pernah memanggul sendiri karung gandum untuk seorang ibu yang anak-anaknya menangis karena lapar. Ketika ajudannya menawarkan bantuan, Umar menolak dengan kalimat yang penuh makna, “Apakah engkau akan memikul dosaku di hari kiamat?”

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: