“Kelapa sawit fokus utamanya ada pada produksi buah, sedangkan karet bergantung pada kualitas getah. Karena itu, perlakuan terhadap tanaman juga berbeda sejak awal,” ujarnya.
Pada perkebunan sawit, pengelolaan biasanya dimulai dari pemilihan bibit unggul dan penataan jarak tanam yang terukur. Sawit membutuhkan pemupukan rutin dalam jumlah cukup besar agar pertumbuhan pohon stabil dan produksi tandan buah segar tetap tinggi.
Selain pemupukan, kebun sawit juga harus rutin dibersihkan dari gulma yang dapat mengganggu penyerapan unsur hara. Pelepah tua dipangkas secara berkala agar tanaman tetap produktif dan memudahkan proses panen.
Panen sawit sendiri dilakukan dengan memotong tandan buah yang telah matang. Proses ini membutuhkan tenaga fisik cukup besar karena bobot tandan bisa mencapai puluhan kilogram. Dalam kondisi normal, panen sawit dilakukan setiap dua minggu sekali.
Berbeda dengan sawit, pengelolaan kebun karet lebih banyak berfokus pada teknik penyadapan. Petani harus memastikan goresan pada batang dilakukan dengan tepat agar getah keluar maksimal tanpa merusak jaringan tanaman.
Kesalahan dalam penyadapan dapat membuat produksi menurun bahkan memperpendek usia produktif pohon karet.
Petani karet di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, Hasan Basri, mengatakan pekerjaan menyadap membutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi.
“Kalau terlalu dalam mengiris batang, pohon bisa rusak. Tapi kalau terlalu tipis, getah yang keluar sedikit,” katanya.