Ekonom pertanian dari Universitas Andalas, Dr. Rendi Mahardika, menilai lemahnya posisi tawar petani menjadi persoalan lama yang belum terselesaikan.
“Petani karet kebanyakan menjual dalam skala kecil dan tidak punya akses langsung ke industri. Akibatnya, harga ditentukan oleh pasar dan tengkulak, bukan oleh petani sendiri,” katanya.
Masalah kualitas juga ikut memengaruhi murahnya harga karet Indonesia. Di sejumlah daerah, pengolahan getah masih dilakukan secara tradisional dengan standar mutu yang rendah. Karet yang tercampur air, tanah, atau bahan lain biasanya dihargai lebih murah karena dianggap menurunkan kualitas produksi.
Kondisi tersebut membuat daya saing karet rakyat Indonesia tidak selalu kuat di pasar internasional. Padahal, industri global kini semakin menuntut bahan baku berkualitas tinggi dengan standar yang konsisten.
Tidak hanya itu, persaingan dengan karet sintetis juga menjadi tantangan besar. Karet sintetis yang dibuat dari bahan kimia berbasis minyak bumi memiliki harga yang cenderung lebih stabil. Saat harga minyak dunia turun, biaya produksi karet sintetis ikut lebih murah sehingga banyak industri memilih beralih.
Dalam situasi seperti itu, harga karet alam otomatis semakin sulit bersaing.
Di tengah tekanan pasar, banyak petani sebenarnya berharap pemerintah mampu menghadirkan kebijakan yang lebih melindungi mereka. Program hilirisasi industri dan peningkatan penggunaan karet dalam negeri memang mulai dilakukan, salah satunya melalui pemanfaatan campuran karet pada pembangunan jalan.
Namun langkah tersebut dinilai belum cukup besar untuk menyerap produksi petani secara maksimal.