Alasan Klasik Harga Karet di Indonesia Selalu Murah

Minggu 17-05-2026,12:09 WIB
Reporter : Tim Redaksi RM
Editor : Tim Redaksi RM

 

Petani karet di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, bernama Mulyadi, mengaku penghasilan dari kebun kini jauh berbeda dibanding beberapa tahun silam.

 

“Dulu hasil karet masih bisa untuk menabung. Sekarang kadang hanya cukup buat kebutuhan harian,” ujarnya pelan.

 

Kondisi ini membuat sebagian petani mulai meninggalkan kebun karet dan beralih ke komoditas lain yang dianggap lebih menjanjikan. Ada yang memilih menanam sawit, kopi, bahkan menjual lahannya karena merasa hasil karet tidak lagi mampu menopang ekonomi keluarga.

 

Padahal, bagi masyarakat desa, kebun karet bukan sekadar sumber pendapatan. Tanaman itu sering menjadi warisan turun-temurun yang menyimpan sejarah panjang kehidupan keluarga petani.

 

Ini Perbedaan Pengelolaan Sawit dan Karet

Perbedaan itu tidak hanya terlihat dari metode panen, tetapi juga menyangkut perawatan tanaman, kebutuhan tenaga kerja, hingga pola pendapatan petani. Karena itulah, banyak masyarakat yang terjun ke dunia perkebunan harus memahami karakter masing-masing tanaman sebelum memutuskan mengelolanya.

 

Di berbagai wilayah Sumatera dan Kalimantan, sawit dan karet sering tumbuh berdampingan. Namun ritme kehidupan petaninya tidak selalu sama. Sawit dikenal sebagai tanaman yang membutuhkan perawatan intensif dengan pola kerja terjadwal, sementara karet lebih mengandalkan ketelatenan dan konsistensi dalam penyadapan.

 

Pengamat perkebunan dari Universitas Bengkulu, Ardiansyah Putra, menjelaskan bahwa sawit dan karet memiliki karakter biologis berbeda sehingga cara pengelolaannya pun tidak bisa disamakan.

 

Tags :
Kategori :

Terkait