Salat Tarawih di Akhir Ramadan Semakin Sepi, Ini Fenomena yang Terjadi

Sabtu 07-03-2026,14:00 WIB
Reporter : Tim Redaksi RM
Editor : Tim Redaksi RM

RADARMUKOMUKO.COM -  Pada awal Ramadan, masjid-masjid di berbagai daerah biasanya dipenuhi jamaah yang datang dengan penuh semangat. 

Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema di ruang-ruang ibadah, sementara barisan salat tarawih memanjang hingga ke halaman masjid. Namun, seiring berjalannya waktu dan mendekati penghujung Ramadan, suasana yang semula ramai perlahan berubah. 

Jumlah jamaah tarawih di banyak tempat mulai berkurang, menyisakan barisan yang tidak lagi serapat pada malam-malam pertama.

Fenomena ini bukan hal baru. Setiap tahun, pola yang hampir sama dapat ditemukan di berbagai kota maupun desa di Indonesia. 

Pada pekan pertama Ramadan, masjid dipenuhi oleh jamaah dari berbagai usia anak-anak, remaja, hingga orang tua. Akan tetapi, ketika Ramadan memasuki pertengahan hingga sepuluh hari terakhir, sebagian jamaah mulai jarang hadir dalam salat tarawih berjamaah.

Menurut pengamat sosial keagamaan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Zainal Abidin, kondisi ini berkaitan dengan dinamika semangat spiritual masyarakat yang cenderung tinggi pada awal Ramadan. 

“Pada permulaan bulan puasa, semangat religius biasanya sedang berada pada puncaknya. Banyak orang ingin memulai Ramadan dengan penuh ibadah. Namun, setelah beberapa minggu, rutinitas harian, rasa lelah, dan kesibukan mulai memengaruhi konsistensi kehadiran di masjid,” ujarnya dalam sebuah diskusi keagamaan.

Di sejumlah daerah, imam masjid juga merasakan perubahan tersebut secara langsung. Ahmad Fauzi, imam salah satu masjid di Kota Padang, menuturkan bahwa pada sepuluh malam pertama Ramadan jumlah jamaah bisa mencapai ratusan orang. Namun menjelang akhir bulan, jumlah tersebut biasanya berkurang cukup signifikan.

“Pada malam pertama sampai malam kesepuluh, saf salat bisa sampai ke luar masjid. Tetapi ketika Ramadan memasuki minggu terakhir, biasanya hanya tersisa beberapa saf saja,” kata Ahmad. Meski demikian, ia menilai kondisi tersebut tidak selalu berarti menurunnya kualitas ibadah masyarakat.

Menurutnya, sebagian jamaah memilih beribadah dengan cara yang berbeda pada malam-malam terakhir Ramadan. Ada yang melaksanakan salat malam di rumah bersama keluarga, ada pula yang memilih fokus pada ibadah lain seperti membaca Al-Qur’an atau memperbanyak doa. 

“Tidak semua orang meninggalkan ibadah. Banyak juga yang tetap beribadah, hanya tempat dan bentuknya berbeda,” jelasnya.

Fenomena berkurangnya jamaah tarawih juga berkaitan dengan meningkatnya aktivitas masyarakat menjelang Hari Raya Idulfitri. 

Di berbagai kota, pusat perbelanjaan mulai ramai, sementara sebagian orang sibuk mempersiapkan kebutuhan lebaran, mulai dari membeli pakaian baru hingga menyiapkan makanan khas hari raya.

Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Arif Hidayat, menjelaskan bahwa faktor sosial dan budaya turut memengaruhi pola ibadah masyarakat. 

Menurutnya, menjelang akhir Ramadan, perhatian masyarakat sering terbagi antara ibadah dan persiapan tradisi lebaran. “Dalam konteks sosial, Ramadan tidak hanya menjadi bulan ibadah, tetapi juga bulan yang penuh dengan aktivitas budaya dan keluarga. Hal ini kadang membuat sebagian orang harus membagi waktu mereka,” ungkapnya.

Tags :
Kategori :

Terkait