Dari sisi fungsi dalam masakan, santan dan susu juga memiliki kemiripan sebagai bahan penambah tekstur dan cita rasa. Lemak dalam keduanya memberikan efek creamy atau lembut pada makanan dan minuman.
Dalam praktik kuliner modern, beberapa koki bahkan menggunakan susu sebagai pengganti santan untuk menghasilkan hidangan yang lebih ringan, atau sebaliknya memakai santan untuk alternatif non-dairy.
Namun, konsumsi keduanya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing individu. Kandungan lemak jenuh yang cukup tinggi pada santan maupun susu dapat berdampak pada kadar kolesterol jika dikonsumsi berlebihan.
“Kuncinya adalah moderasi. Tidak ada bahan makanan yang sepenuhnya buruk jika dikonsumsi dalam jumlah wajar dan sebagai bagian dari pola makan seimbang,” tegas Intan.
Kesadaran masyarakat terhadap komposisi nutrisi semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Informasi dari berbagai penelitian dan lembaga kesehatan membantu publik memahami bahwa memilih antara santan dan susu bukan sekadar soal rasa, melainkan juga kebutuhan tubuh. Dalam konteks budaya Indonesia yang kaya kuliner, santan tetap memiliki tempat istimewa, sementara susu menjadi simbol asupan gizi modern yang praktis.*