Mengukir Benang Buruk, Inilah Mengapa Kita Sulit Percaya dengan Orang di Sekitar Kita

Mengukir Benang Buruk, Inilah Mengapa Kita Sulit Percaya dengan Orang di Sekitar Kita

Mengukir Benang Buruk, Inilah Mengapa Kita Sulit Percaya dengan Orang di Sekitar Kita--

RMONLINE.ID – Kepercayaan adalah fondasi utama dalam membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. 

Namun, banyak di antara kita yang mengalami kesulitan untuk mempercayai orang lain, bahkan terhadap mereka yang dekat dengan kita. 

Fenomena ini bukanlah sekadar sikap pesimis atau paranoid, melainkan seringkali merupakan respons psikologis terhadap pengalaman hidup yang telah kita lalui. 

Mari kita bahas tiga alasan utama mengapa seseorang mungkin sulit mempercayai orang lain.

1. Pernah Mendapat Kekecewaan yang Amat Menyakitkan

Pengkhianatan dan kekecewaan mendalam memiliki dampak yang luar biasa terhadap kemampuan kita untuk mempercayai orang lain. Ketika seseorang yang kita percayai—entah itu pasangan, sahabat, atau anggota keluarga—mengkhianati kepercayaan kita, luka emosional yang terbentuk bisa bertahan dalam waktu yang sangat lama.

BACA JUGA:Kenali Tanda-tanda Lelah Secara Mental Sejak Dini

BACA JUGA:Jangan Sampai Menjadi Korban, Ini Modus-Modus Kejahatan Yang Perlu Diwaspadai

Otak kita dirancang untuk melindungi diri dari bahaya, termasuk bahaya emosional. Setelah mengalami pengkhianatan yang menyakitkan, mekanisme pertahanan psikologis secara otomatis membangun tembok tak kasat mata. Ini adalah cara alami pikiran untuk berkata, "Jangan biarkan ini terjadi lagi."

Ketika seseorang telah mengalami penipuan oleh orang terdekat, dibohongi oleh pasangan, atau dimanfaatkan oleh teman, pola pikir protektif ini menjadi hampir permanen. Setiap interaksi baru kemudian diukur dengan standar kewaspadaan yang tinggi, membuat proses membangun kepercayaan menjadi lebih sulit dan panjang.

2. Sering Bertemu dengan Keadaan yang Buruk

Lingkungan memainkan peran penting dalam membentuk persepsi kita tentang dunia dan orang-orang di dalamnya. Seseorang yang tumbuh atau sering berada dalam Lingkungan di mana kejujuran bukan merupakan nilai yang dijunjung tinggi cenderung mengembangkan pandangan skeptis terhadap niat orang lain.

Jika kita hidup dalam komunitas di mana pengalaman negatif seperti penipuan, manipulasi, atau pengkhianatan sering terjadi, kita mungkin mulai memandang hal-hal ini sebagai "normal" dan mengembangkan keyakinan bahwa kebanyakan orang tidak dapat dipercaya. Pengalaman berulang dengan orang-orang yang tidak jujur atau tidak dapat diandalkan menciptakan pola pikir bahwa kewaspadaan adalah pendekatan terbaik dalam berinteraksi dengan orang lain.

BACA JUGA:5 Tantangan Tinggal di Luar Negeri yang Harus Diperhatikan Sebelum #KaburAjaDulu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: