Jenis Makanan yang Aman Dikonsumsi Saat Lebaran Agar Terhindar dari Sakit Perut
Variasi Ketupat: Dari Ketupat Putih, Ketupat Instant, Hingga Ketupat Fatimah, Mana Favoritmu?--
RADARMUKOMUKO.COM - Aroma opor ayam, rendang, dan ketupat yang mengepul dari dapur menjadi penanda khas datangnya Hari Raya Idulfitri. Setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa, meja makan saat Lebaran biasanya dipenuhi berbagai hidangan lezat yang menggoda selera.
Namun di balik kegembiraan itu, tidak sedikit orang yang justru mengalami gangguan pencernaan setelah menikmati makanan secara berlebihan. Sakit perut, kembung, hingga diare kerap muncul ketika pola makan berubah secara mendadak setelah Ramadan berakhir.
Fenomena ini sering terjadi di berbagai daerah di Indonesia setiap kali Idulfitri tiba. Pada masa perayaan yang identik dengan silaturahmi dan hidangan berlimpah, masyarakat cenderung ingin mencicipi semua makanan yang tersedia.
Padahal, setelah sebulan tubuh beradaptasi dengan pola makan yang lebih teratur selama puasa, sistem pencernaan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri kembali.
Dokter spesialis gizi klinis, dr. Rina Mardiana, menjelaskan bahwa perubahan pola makan secara tiba-tiba dapat memicu gangguan pada lambung dan usus. Menurutnya, tubuh yang selama Ramadan terbiasa makan dua kali sehari dengan porsi terkontrol akan “kaget” ketika langsung menerima makanan tinggi lemak, santan, dan gula dalam jumlah besar.
“Banyak orang langsung makan berbagai makanan berat saat Lebaran tanpa mempertimbangkan kondisi pencernaannya. Padahal, lambung yang sudah beradaptasi selama puasa perlu waktu untuk menyesuaikan diri kembali,” ujar Rina dalam sebuah diskusi kesehatan yang digelar oleh komunitas medis di Jakarta.
Karena itu, memilih jenis makanan yang lebih aman dikonsumsi menjadi langkah penting agar perayaan Lebaran tetap menyenangkan tanpa gangguan kesehatan. Salah satu makanan yang relatif aman adalah ketupat atau lontong yang disajikan dengan porsi seimbang.
Ketupat yang terbuat dari beras mengandung karbohidrat yang mudah dicerna tubuh, terutama jika tidak disertai dengan kuah santan yang terlalu kental.
Ahli gizi dari Universitas Indonesia, Prof. Arif Nugroho, menuturkan bahwa karbohidrat sederhana dari nasi atau ketupat dapat menjadi sumber energi yang baik setelah puasa. Namun ia menekankan pentingnya menjaga porsi makan.
“Ketupat sendiri sebenarnya tidak bermasalah bagi pencernaan. Yang sering menjadi masalah adalah lauknya yang terlalu berlemak atau bersantan kental,” kata Arif.
Selain ketupat, makanan berbahan sayuran juga sangat dianjurkan saat Lebaran. Hidangan seperti sayur labu siam, tumis buncis, atau urap sayuran membantu menyeimbangkan makanan berlemak yang biasanya mendominasi menu hari raya. Serat yang terkandung dalam sayuran membantu memperlancar sistem pencernaan dan mengurangi risiko sembelit.
Buah-buahan segar juga menjadi pilihan yang aman dan menyehatkan. Pepaya, semangka, dan melon misalnya, mengandung air dan serat yang cukup tinggi sehingga membantu tubuh tetap terhidrasi dan menjaga kesehatan usus. Konsumsi buah setelah makan juga dapat membantu proses pencernaan berjalan lebih baik.
Di sejumlah rumah tangga, tradisi menyajikan kue kering seperti nastar, kastengel, dan putri salju hampir tidak pernah absen saat Lebaran. Meski rasanya lezat, makanan ini sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah terbatas karena kandungan gula dan lemaknya cukup tinggi. Konsumsi berlebihan dapat memicu rasa begah dan meningkatkan risiko gangguan pencernaan.
“Tubuh kita sebenarnya memberi sinyal ketika sudah cukup makan. Jika terus dipaksa karena ingin mencicipi semua makanan, lambung akan bekerja lebih berat dan akhirnya menimbulkan keluhan seperti kembung atau sakit perut,” jelas dr. Rina.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
