Jejak Karomah Umar bin Khattab dalam Kepemimpinan dan Keteguhan Iman
Jejak Karomah Umar bin Khattab dalam Kepemimpinan dan Keteguhan Iman--
Bagi Dr. Muhammad Iqbal, dosen sejarah peradaban Islam di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, keistimewaan Umar tidak hanya terletak pada peristiwa luar biasa, tetapi pada integritas moralnya.
“Karomah terbesar Umar adalah kemampuannya menundukkan kekuasaan di bawah nilai ketakwaan. Ia memimpin wilayah yang sangat luas, namun hidupnya tetap sederhana,” ujarnya dalam sebuah diskusi akademik mengenai kepemimpinan Islam klasik.
Di bawah kepemimpinannya, wilayah Islam meluas hingga Persia, Syam, dan Mesir. Administrasi pemerintahan dibangun dengan sistematis, baitul mal dikelola transparan, dan pengadilan ditegakkan tanpa pandang bulu.
Umar bahkan tidak segan menghukum pejabat yang menyalahgunakan jabatan. Ketegasannya lahir dari kesadaran bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan kehormatan pribadi.
Karomah dalam tradisi Islam dipahami sebagai kejadian luar biasa yang Allah berikan kepada wali atau hamba saleh tanpa mereka mengklaimnya sebagai mukjizat.
Dalam konteks Umar, para ulama sepakat bahwa keistimewaan itu muncul karena ketakwaan, kejujuran, dan keberaniannya dalam menegakkan kebenaran. Ia tidak pernah membanggakan peristiwa-peristiwa tersebut. Sebaliknya, ia semakin merendahkan diri dan memperbanyak istigfar.
Menjelang akhir hayatnya, Umar tetap menunjukkan kerendahan hati yang sama. Ketika ditikam oleh Abu Lu’luah al-Majusi pada tahun 644 M saat memimpin shalat Subuh di Masjid Nabawi, ia masih memikirkan kelangsungan umat.
Ia membentuk tim syura untuk memilih penggantinya dan memastikan transisi berjalan damai. Umar wafat dalam usia 63 tahun dan dimakamkan di samping Rasulullah SAW serta Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Warisan Umar bin Khattab bukan sekadar kisah heroik atau cerita menakjubkan. Ia meninggalkan teladan bahwa karomah sejati tumbuh dari keadilan, keteguhan iman, dan keberanian moral. Dalam diri Umar, kekuatan spiritual dan tanggung jawab sosial berjalan beriringan. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan yang bersih lahir dari hati yang takut kepada Allah.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: