RADARMUKOMUKO.COM - Arus informasi bergerak semakin cepat dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah padatnya aktivitas masyarakat dan derasnya banjir berita di media sosial, cara orang membaca pun ikut berubah.
Jika dahulu pembaca menikmati tulisan panjang dengan bahasa formal dan berlapis, kini banyak orang lebih memilih media yang sederhana, ringkas, namun tetap memiliki isi yang kuat dan mudah dipahami.
Perubahan pola membaca itu menjadi perhatian sejumlah pakar bahasa dan komunikasi di Indonesia. Mereka menilai masyarakat modern cenderung menyukai media yang mampu menyampaikan pesan secara cepat tanpa menghilangkan makna utama.
Fenomena tersebut terlihat jelas dari meningkatnya popularitas platform digital yang mengandalkan bahasa ringan, visual singkat, serta gaya penulisan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pakar bahasa dari Universitas Indonesia, Dr. Emzir Rahman, menjelaskan bahwa perkembangan teknologi membuat manusia memiliki rentang perhatian yang lebih pendek dibandingkan beberapa dekade lalu. Menurutnya, media yang paling mudah diterima masyarakat saat ini adalah media yang menggunakan kalimat efektif, tidak bertele-tele, dan langsung menuju inti pembahasan.
“Orang sekarang membaca sambil bekerja, di kendaraan, bahkan sambil membuka aplikasi lain. Karena itu, media dengan bahasa sederhana lebih mudah dipahami dan diingat,” ujarnya dalam sebuah diskusi literasi digital yang digelar di Jakarta beberapa waktu lalu.
BACA JUGA:Begini Trik Petani Atasi Padi Roboh Agar Hasil Panen Tetap Maksimal
BACA JUGA:Pemdes Marga Mulya Sakti Buka Donasi untuk Korban Kebakaran, Kerugian Ditaksir Capai Rp300 Juta
Ia menambahkan, kesederhanaan bukan berarti menurunkan kualitas informasi. Justru tantangan terbesar media modern adalah bagaimana menyampaikan informasi penting dengan bahasa yang tetap cerdas namun tidak rumit. Dalam praktiknya, banyak media digital mulai meninggalkan gaya bahasa yang terlalu formal agar lebih dekat dengan pembaca muda.
Perubahan itu juga dipengaruhi oleh kebiasaan generasi digital yang tumbuh bersama media sosial. Mereka terbiasa menerima informasi dalam bentuk singkat seperti video pendek, infografik, maupun artikel dengan paragraf yang lebih ringkas. Karena itu, media yang mampu beradaptasi dengan pola konsumsi informasi tersebut dinilai lebih bertahan di era persaingan digital.
Pengamat komunikasi dari Universitas Padjadjaran, Rina Maheswari, mengatakan bahwa kekuatan media saat ini tidak lagi hanya terletak pada panjang tulisan, melainkan pada kemampuan membangun kedekatan emosional dengan pembaca. Menurutnya, bahasa yang humanis membuat audiens merasa sedang diajak berbicara, bukan digurui.
“Media yang berhasil hari ini adalah media yang terasa akrab. Pembaca ingin informasi yang jelas, cepat, tetapi tetap punya sentuhan manusia,” katanya.
Di berbagai platform digital, tren itu terlihat dari semakin banyaknya media yang memakai judul singkat, kalimat aktif, dan gaya bertutur yang mengalir. Bahkan sejumlah perusahaan media besar mulai mengubah tampilan artikel mereka agar lebih nyaman dibaca di layar ponsel. Paragraf dibuat lebih pendek, pilihan kata lebih ringan, dan penyampaian informasi lebih fokus.
Meski demikian, para pakar mengingatkan bahwa kesederhanaan tetap harus dibarengi dengan akurasi. Media yang terlalu mengejar kecepatan tanpa memeriksa fakta justru berpotensi menyesatkan publik. Karena itu, keseimbangan antara bahasa sederhana dan kualitas informasi menjadi hal yang sangat penting.