RADARMUKOMUKO.COM - Dalam ajaran Islam, kondisi ketika seseorang terlalu mencintai dunia hingga melupakan kehidupan akhirat dikenal sebagai salah satu penyakit hati yang berbahaya. Rasulullah SAW pernah menggambarkan keadaan tersebut sebagai penyebab melemahnya kekuatan spiritual umat manusia.
Riwayat tentang hal ini terekam dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Rasulullah SAW menyampaikan bahwa suatu masa akan datang ketika umat Islam menghadapi kelemahan karena penyakit yang disebut wahn.
Ketika para sahabat bertanya tentang makna istilah tersebut, Rasulullah menjelaskan bahwa wahn adalah cinta dunia yang berlebihan dan rasa takut terhadap kematian. Hadis itu sejak lama menjadi bahan kajian para ulama dalam memahami kondisi batin manusia yang terlalu terikat pada kehidupan dunia.
Menurut Prof. M. Quraish Shihab, cinta dunia pada dasarnya bukan sesuatu yang dilarang dalam Islam. Dunia justru dipandang sebagai sarana bagi manusia untuk berbuat baik dan mempersiapkan bekal menuju akhirat.
Namun masalah muncul ketika kecintaan itu menjadi berlebihan hingga menutup kesadaran spiritual seseorang. “Islam tidak melarang manusia menikmati dunia, tetapi melarang menjadikannya tujuan utama hidup,” ujar Quraish Shihab dalam salah satu ceramahnya tentang etika kehidupan dalam Islam.
Salah satu ciri paling jelas dari orang yang terlalu mencintai dunia adalah kecenderungan menjadikan harta dan materi sebagai ukuran utama keberhasilan hidup. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini dapat terlihat dari sikap yang terlalu ambisius mengejar kekayaan tanpa memperhatikan cara yang digunakan. Bagi sebagian orang, keberhasilan ekonomi menjadi tolok ukur kebahagiaan, sementara nilai-nilai moral dan spiritual perlahan tersisih.
Ulama besar abad ke-11, Imam Al-Ghazali, dalam kitab Ihya Ulumuddin menggambarkan kondisi tersebut sebagai keterikatan hati terhadap dunia. Ia menjelaskan bahwa hati manusia ibarat kapal yang seharusnya berlayar menuju akhirat.
Dunia boleh menjadi lautan tempat kapal itu bergerak, tetapi ketika air laut masuk ke dalam kapal, perjalanan akan terancam tenggelam. Gambaran itu menunjukkan bahwa kecintaan terhadap dunia akan menjadi masalah ketika ia mulai menguasai hati manusia.
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa rasa takut mati sering muncul ketika manusia terlalu menumpuk harapan pada kehidupan dunia. Menurutnya, seseorang yang hidup dengan orientasi akhirat justru memandang kematian sebagai gerbang menuju kehidupan yang lebih abadi. “Orang yang terlalu terikat pada dunia akan merasa kehilangan segalanya ketika membayangkan kematian,” kata Adi Hidayat dalam salah satu ceramahnya di Jakarta.
Ciri lain dari orang yang terlalu mencintai dunia adalah berkurangnya kepedulian terhadap kepentingan bersama. Ketika orientasi hidup hanya berpusat pada keuntungan pribadi, nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, dan solidaritas sosial sering kali terabaikan. Dalam situasi seperti ini, seseorang bisa saja berhasil secara materi, tetapi kehilangan kedalaman makna dalam hidupnya.
Dalam berbagai ayat Al-Qur’an, Allah mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Surah Al-Hadid ayat 20 menggambarkan dunia sebagai permainan dan perhiasan yang dapat menipu manusia jika tidak disikapi dengan bijak. Ayat ini sering dijadikan rujukan oleh para ulama untuk mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat.