Getah Sayuran Ini yang Melekat di Gigi dan Berpotensi Menjadi Karang Gigi

Minggu 08-03-2026,17:02 WIB
Reporter : Tim Redaksi RM
Editor : Tim Redaksi RM

Dokter gigi umumnya menyarankan beberapa kebiasaan sederhana setelah mengonsumsi makanan, termasuk sayuran yang memiliki getah. 

Berkumur dengan air putih setelah makan dapat membantu membersihkan sisa makanan yang menempel di gigi. Selain itu, menyikat gigi dua kali sehari dengan teknik yang benar menjadi langkah utama untuk mencegah terbentuknya plak.

Kebiasaan menggunakan benang gigi atau dental floss juga dianjurkan, terutama bagi mereka yang sering mengonsumsi makanan berserat. Benang gigi mampu membersihkan sela-sela gigi yang sulit dijangkau oleh sikat gigi biasa.

Dalam praktiknya, pemeriksaan rutin ke dokter gigi setiap enam bulan juga sangat penting. Jika karang gigi sudah terbentuk, prosedur pembersihan profesional atau scaling diperlukan untuk mengangkat endapan tersebut tanpa merusak lapisan gigi.

Meskipun beberapa sayuran memiliki getah yang mudah menempel, para ahli tetap menekankan bahwa sayuran merupakan bagian penting dari pola makan sehat. Kandungan vitamin, mineral, dan serat di dalamnya memberikan manfaat besar bagi tubuh.

“Sayuran tetap harus dikonsumsi karena sangat baik untuk kesehatan. Yang perlu diperhatikan hanyalah kebersihan mulut setelah makan,” kata drg. Widyastuti.

Perbedaan Kandungan Gula Aren dan Gula Pasir serta Pilihan yang Lebih Baik bagi Kesehatan

Dua jenis yang paling sering dibandingkan adalah gula aren dan gula pasir, terutama ketika pembicaraan mengarah pada kesehatan.

Gula pasir telah lama menjadi pemanis paling umum digunakan. Bentuknya kristal putih, mudah larut, dan tersedia hampir di setiap toko. 

Sementara itu, gula aren yang di beberapa daerah juga dikenal sebagai gula merah dihasilkan dari nira pohon aren atau kelapa dan biasanya berbentuk padat berwarna cokelat. Perbedaan bahan baku dan proses pengolahan membuat keduanya memiliki kandungan nutrisi yang tidak sama.

Secara umum, gula pasir diproduksi dari tebu melalui proses pemurnian yang cukup panjang. Nira tebu disaring, dimurnikan, lalu dikristalkan hingga menghasilkan gula yang hampir sepenuhnya terdiri dari sukrosa. Proses pemurnian ini membuat gula pasir sangat bersih, tetapi juga menghilangkan sebagian besar mineral alami yang terdapat pada bahan bakunya.

Ahli gizi dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Hardinsyah, menjelaskan bahwa gula pasir pada dasarnya adalah karbohidrat sederhana yang berfungsi sebagai sumber energi cepat bagi tubuh. Namun karena kandungannya hampir murni sukrosa, gula ini tidak menyediakan nutrisi tambahan seperti vitamin atau mineral.

“Gula pasir memberikan kalori yang cepat diserap tubuh, tetapi hampir tidak memiliki kandungan gizi lain. Karena itu, konsumsi berlebihan bisa meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan seperti obesitas dan diabetes,” ujarnya dalam sebuah diskusi mengenai pola makan sehat.

Di sisi lain, gula aren dihasilkan melalui proses yang relatif lebih sederhana. Nira yang disadap dari pohon aren dimasak hingga mengental dan kemudian dicetak menjadi gula padat. Proses ini biasanya tidak melalui pemurnian intensif seperti gula pasir, sehingga sebagian kandungan mineral alami tetap tersimpan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam  Journal of Food Composition and Analysis menunjukkan bahwa gula aren mengandung sejumlah mineral penting, seperti kalium, magnesium, zat besi, dan sedikit antioksidan alami. Kandungan tersebut berasal dari nira pohon yang menjadi bahan bakunya.

Dokter spesialis gizi klinis, dr. Samuel Oetoro, menjelaskan bahwa keberadaan mineral dalam gula aren membuatnya sedikit berbeda dari gula pasir dari sisi nutrisi. Meski demikian, ia menegaskan bahwa gula aren tetap termasuk gula tambahan yang harus dikonsumsi secara bijak.

Tags :
Kategori :

Terkait