RADARMUKOMUKO.COM - Makan bukan sekadar mengisi perut, melainkan merawat kedekatan. Namun dalam tradisi Islam, adab saat makan memiliki tempat tersendiri termasuk soal berbicara di tengah suapan.
Ustaz Ahmad Fauzi, pengasuh sebuah pesantren di Jawa Barat, menuturkan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara menjaga sopan santun dan memelihara kebersamaan. “Berbicara saat makan pada dasarnya tidak dilarang, selama dilakukan dengan baik dan tidak melanggar adab,” ujarnya saat ditemui usai pengajian rutin, akhir pekan lalu.
Menurut Ahmad, Rasulullah SAW memberikan teladan melalui perilaku yang lembut dan penuh kesadaran. Dalam sejumlah riwayat, Nabi diketahui berbicara di sela-sela makan, terutama untuk menyampaikan kebaikan atau menanggapi percakapan para sahabat.
Namun beliau tidak berbicara dengan mulut penuh makanan dan tidak pula mengeluarkan suara yang mengganggu. “Intinya bukan pada boleh atau tidaknya berbicara, tetapi bagaimana cara kita menjaga kesopanan,” kata Ahmad.
Penjelasan tersebut diperkuat oleh dosen studi Islam di sebuah universitas negeri di Yogyakarta, Dr. Laila Rahmawati. Ia menyebut bahwa adab makan dalam Islam bertujuan menjaga kebersihan, kesehatan, dan kehormatan orang lain.
“Islam sangat memperhatikan etika sosial. Berbicara dengan makanan masih di dalam mulut bisa menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang lain, bahkan berisiko secara kesehatan,” jelasnya.
Laila merujuk pada sejumlah hadis yang menekankan pentingnya menyempurnakan suapan sebelum berbicara. Dalam praktiknya, umat Muslim diajarkan untuk mengunyah dengan tenang, menelan makanan terlebih dahulu, baru kemudian menyampaikan kata-kata. Kebiasaan ini bukan hanya soal tata krama, tetapi juga mencerminkan sikap menghargai nikmat rezeki yang ada di hadapan.
Di sebuah keluarga di Makassar, nilai-nilai tersebut diterapkan dalam keseharian. Hasan, seorang ayah tiga anak, membiasakan makan bersama tanpa tergesa-gesa. Ia mengingatkan anak-anaknya untuk tidak berbicara saat mulut masih penuh.
“Saya sampaikan bahwa makanan adalah amanah. Kita harus menghormatinya dengan sikap yang baik,” ujarnya. Perlahan, anak-anaknya memahami bahwa jeda kecil sebelum berbicara adalah bentuk disiplin diri.
Dari sisi kesehatan, kebiasaan berbicara saat mulut penuh makanan memang memiliki implikasi. Dokter gigi dan kesehatan mulut, drg. Mira Salsabila di Surabaya, menjelaskan bahwa berbicara ketika mengunyah dapat meningkatkan risiko tersedak.
“Ketika kita berbicara, koordinasi antara menelan dan bernapas bisa terganggu. Pada anak-anak dan lansia, risiko ini lebih besar,” katanya. Ia menambahkan bahwa sisa makanan yang keluar saat berbicara juga berpotensi menyebarkan kuman.
Meski demikian, suasana makan dalam Islam tidak diarahkan menjadi kaku atau sunyi. Dalam banyak riwayat, Rasulullah SAW justru menciptakan suasana yang hangat dan penuh perhatian.
Beliau memuji makanan tanpa berlebihan, tidak mencela hidangan, dan kadang berbincang ringan bersama para sahabat. Nilai yang ditekankan adalah kesederhanaan dan kesadaran.
Dr. Laila menjelaskan bahwa konteks budaya turut memengaruhi cara umat Islam mempraktikkan adab makan. Di Indonesia, makan bersama sering menjadi ruang diskusi keluarga. Islam tidak menutup ruang tersebut, selama adab tetap dijaga.
“Berbicara untuk kebaikan, menyampaikan nasihat, atau mempererat silaturahmi tentu bernilai positif. Yang dihindari adalah sikap tergesa-gesa, berlebihan, atau mengabaikan etika,” tuturnya.