Kelebihan lain yang kerap dirasakan petani adalah relatif minimnya gangguan kekeringan ekstrem. Lapisan gambut yang tebal bertindak sebagai spons alami, menyimpan cadangan air yang membantu tanaman bertahan pada periode curah hujan rendah.
Meski demikian, kondisi ini tetap memerlukan pengawasan agar kelembapan tidak berubah menjadi genangan berlebih yang dapat merusak akar.
Di balik berbagai kelebihan tersebut, para petani menyadari bahwa investasi tenaga dan biaya di lahan gambut memang lebih besar pada tahap awal.
Pembuatan sistem drainase, pemadatan jalur panen, hingga pemupukan spesifik membutuhkan perencanaan matang. Namun ketika kebun telah memasuki fase stabil, hasilnya dapat dinikmati dalam jangka panjang.
Darmawan mengenang masa awal membuka kebun yang penuh keraguan. Banyak pihak meragukan ketahanan sawit di atas tanah yang dianggap rapuh. Kini, setelah lebih dari dua puluh tahun, ia menyaksikan sendiri pohon-pohon itu tetap menghasilkan.
“Kami belajar dari pengalaman. Tanah ini harus diperlakukan dengan hati-hati, tidak bisa disamakan dengan tanah biasa,” tuturnya.
Umur produksi yang dapat mencapai seperempat abad bahkan lebih menjadi bukti bahwa sawit di tanah gambut bukan sekadar eksperimen agraria. Ia adalah hasil adaptasi panjang antara tanaman, manusia, dan lingkungan.
Selama prinsip kehati-hatian dan pengelolaan berkelanjutan dijaga, kebun-kebun itu masih akan terus berbuah, menghadirkan sumber penghidupan bagi ribuan keluarga di wilayah pesisir dan dataran rendah Indonesia.
Sumber berita:
1. Agus, F., Subiksa, I. G. M., & Wahyunto. (2014). Pengelolaan Lahan Gambut untuk Pertanian Berkelanjutan. Balai Penelitian Tanah, Badan Litbang Pertanian.
2. Indonesian Oil Palm Research Journal, berbagai edisi tentang produktivitas dan manajemen kelapa sawit di lahan gambut.