RADARMUKOMUKO.COM — Stok darah di Unit Transfusi Darah (UTD) RSUD Mukomuko kerap berada dalam kondisi minim, bahkan habis, akibat keterbatasan kapasitas penyimpanan dan tingginya kebutuhan pasien.
Kondisi ini terutama terjadi pada golongan darah O yang menjadi jenis darah paling sering dibutuhkan.
Kapasitas penyimpanan darah (blood bank) di RSUD Mukomuko saat ini hanya mampu menampung sekitar 40 hingga 50 kantong darah.
Sementara itu, kebutuhan transfusi darah untuk pasien rawat inap maupun kasus darurat hampir terjadi setiap hari. Ketidakseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan inilah yang menyebabkan stok darah kerap kosong.
Salah seorang keluarga pasien, Endi Rustama, SE, mengaku harus berupaya sendiri mencari tambahan donor darah untuk ayahnya yang tengah menjalani perawatan di RSUD Mukomuko. Ayahnya membutuhkan dua kantong darah golongan O.
“Ayah saya butuh darah O dua kantong. Saya ke UTD, alhamdulillah ada satu kantong. Saya menghubungi kawan-kawan yang biasa donor darah,” ujar Endi, Senin (16/2/2026).
BACA JUGA:Wacana Pengunduran Diri Serentak Kades di Penarik Menguat
BACA JUGA:Aktivitas Gempa Bumi Di Wilayah Sumatera Barat dan sekitarnya Dalam Menunggu ini
Menurutnya, kondisi kekurangan stok darah ini bukan pertama kali terjadi. Ia menilai perlu adanya solusi jangka panjang agar keluarga pasien tidak kesulitan saat membutuhkan darah mendesak.
Pihak UTD RSUD Mukomuko menyebutkan bahwa keterbatasan ruang dan fasilitas penyimpanan menjadi salah satu kendala utama dalam menjaga ketersediaan stok darah. Selain itu, belum optimalnya kegiatan donor darah rutin juga turut memengaruhi pasokan.
Golongan darah O menjadi yang paling sering dicari karena dapat digunakan dalam kondisi darurat dan memiliki tingkat kebutuhan yang tinggi di rumah sakit. Akibatnya, stok golongan darah ini lebih cepat habis dibandingkan golongan darah lainnya.
BACA JUGA:Tiga Jenis Jamur Hutan yang Aman Dikonsumsi dan Tidak Menimbulkan Efek Mabuk
BACA JUGA:Minyak Bunga Matahari: Rahasia Sehat dari Alam untuk Masakan dan Kecantikan!
Untuk mengatasi persoalan tersebut, dibutuhkan dukungan berbagai pihak, baik instansi pemerintah, swasta, maupun organisasi kemasyarakatan, melalui kegiatan bakti sosial donor darah secara rutin.