Dalam kitab Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd menjelaskan adanya variasi praktik di kalangan sahabat, tetapi seluruhnya tetap dalam koridor ganjil.
Ada yang melaksanakan satu rakaat saja sebagai witir, ada pula yang hingga sebelas rakaat dengan salam di setiap dua rakaat dan ditutup satu rakaat. Variasi itu menunjukkan keluasan praktik, namun substansi ganjil tetap terjaga.
Di tengah dinamika umat modern yang serba cepat, witir sering kali menjadi ibadah yang terabaikan. Padahal, menurut KH Ahmad Rasyid, justru di situlah letak urgensinya.
“Witir adalah penutup hari. Ia seperti tanda tangan spiritual sebelum kita beristirahat. Dalam satu rakaat terakhir itu, ada doa, ada istighfar, ada pengakuan akan kelemahan diri,” ujarnya.
Secara spiritual, angka ganjil dalam witir juga mengandung pesan psikologis. Dalam kajian numerologi Islam, ganjil kerap dihubungkan dengan kesempurnaan yang tidak terpecah.
Allah Esa, hari-hari tertentu dalam ibadah haji ditandai dengan jumlah ganjil, bahkan zikir pun sering dianjurkan dalam hitungan ganjil. Tradisi ini membentuk kesadaran simbolik bahwa keesaan adalah pusat dari seluruh pengabdian.
Pelaksanaan witir pun memiliki tata cara yang relatif sederhana. Setelah membaca Al-Fatihah dan surah pilihan, pada rakaat terakhir dianjurkan membaca doa qunut witir, terutama pada separuh akhir Ramadan menurut sebagian mazhab.
Doa ini berisi permohonan perlindungan, ampunan, dan keberkahan. Meski demikian, ulama berbeda pendapat mengenai hukum qunut witir di luar Ramadan, dan perbedaan itu dipandang sebagai kekayaan khazanah fikih.
Di berbagai masjid pada bulan Ramadan tahun ini, pelaksanaan witir kembali menjadi penutup tarawih yang khidmat. Suara imam yang melantunkan doa qunut sering kali membuat jamaah terisak, terutama saat memohon perlindungan dari musibah dan memohon keberkahan bagi negeri.
Momentum itu memperlihatkan bahwa witir bukan sekadar hitungan rakaat, melainkan ruang kolektif untuk merendahkan diri di hadapan Allah.
Sumber berita:
1. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Witr.
2. Muslim, Shahih Muslim, Kitab Shalat al-Musafirin.
4. Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid.