Ini Penjelasan Ulama tentang Salat Witir Mesti Ganjil

Ini Penjelasan Ulama tentang Salat Witir Mesti Ganjil

Ini Penjelasan Ulama tentang Salat Witir Mesti Ganjil--

RADARMUKOMUKO.COM - Ada satu ibadah yang kerap menjadi penutup rangkaian salat seorang Muslim  yaitu witir. Ia singkat, tetapi sarat makna. Ia sederhana, namun mengandung kedalaman spiritual yang panjang. 

Di banyak masjid, terutama saat Ramadan, witir dilaksanakan bersama setelah tarawih. Namun di luar bulan suci, ia tetap hadir sebagai penegas bahwa hari ditutup dengan sujud terakhir yang ganjil.

Salat witir adalah ibadah sunah muakkad yang sangat dianjurkan. Ia disebut “witir” karena dilaksanakan dalam jumlah rakaat ganjil satu, tiga, lima, tujuh, sembilan, atau sebelas. 

Dalam praktiknya, mayoritas umat Islam di Indonesia melaksanakannya tiga rakaat, baik dengan dua rakaat salam lalu satu rakaat, maupun tiga rakaat sekaligus. Ketentuan ganjil ini bukan sekadar angka, melainkan memiliki landasan teologis yang kuat.

Ulama menjelaskan, dasar utama kewajiban menjadikannya ganjil merujuk pada sabda Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya Allah itu Witir (Maha Esa) dan menyukai yang witir.

” Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim itu menjadi pijakan penting dalam memahami makna witir. Kata “witir” sendiri berarti ganjil atau satu, merujuk pada sifat Allah Yang Maha Tunggal.

Ketua Majelis Ulama di sebuah kota besar di Sumatera, KH Ahmad Rasyid, menuturkan bahwa makna ganjil dalam witir bukan sekadar simbolik. “Angka ganjil dalam witir adalah pengingat tentang keesaan Allah. 

Ia menjadi penutup yang menyempurnakan rangkaian salat malam, sekaligus simbol bahwa hidup ini bermuara pada Yang Satu,” ujarnya saat ditemui seusai pengajian pekanan.

Penjelasan itu selaras dengan pandangan para ulama klasik. Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu menyebutkan bahwa kesunahan witir dengan jumlah ganjil telah menjadi kesepakatan para sahabat dan generasi setelahnya. 

Ia menegaskan bahwa siapa pun yang menutup salat malamnya dengan rakaat genap dianjurkan menambah satu rakaat agar menjadi ganjil. Anjuran ini menunjukkan betapa kuatnya penekanan pada karakter “ganjil” dalam ibadah tersebut.

Waktu pelaksanaan witir dimulai setelah salat Isya hingga terbit fajar. Di berbagai daerah, umat Islam memiliki kebiasaan berbeda dalam menunaikannya. 

Ada yang melaksanakan langsung setelah Isya karena khawatir tidak terbangun pada sepertiga malam terakhir. Ada pula yang memilih menundanya hingga menjelang Subuh, berharap dapat meraih keutamaan waktu mustajab.

Ustazah Nur Halimah, pengasuh majelis taklim di Jakarta, menjelaskan bahwa fleksibilitas waktu ini menunjukkan kemudahan dalam syariat. 

“Islam memberi ruang sesuai kemampuan. Jika seseorang khawatir tidak bangun malam, lebih baik ia witir sebelum tidur. Namun bila yakin bisa bangun, menutupnya di akhir malam lebih utama,” katanya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: