DPRD MUKOMUKO, HUT 23 MUKOMUKO

Penderita Kencing Berbusa Dilarang Makan Kuning Telur, Ini Alasannya

Penderita Kencing Berbusa Dilarang Makan Kuning Telur, Ini Alasannya

Begini Cara Merebus dan Mengupas Telur Rebus agar Hasilnya Mulus dan Tidak Hancur--

Proses ini dalam jangka panjang berpotensi mempercepat kerusakan ginjal. Pada pasien sindrom nefrotik, misalnya, kebocoran protein sudah terjadi secara signifikan. Mengonsumsi makanan tinggi kolesterol seperti kuning telur dikhawatirkan memperburuk profil lipid yang memang sering meningkat pada kondisi tersebut.

Budi Santoso, 52 tahun, warga Semarang, merasakan sendiri perubahan pola makannya setelah didiagnosis penyakit ginjal kronis stadium tiga pada pertengahan 2025. Ia awalnya datang ke puskesmas karena mendapati urinnya berbusa hampir setiap hari. 

“Saya kira karena kurang minum. Ternyata setelah diperiksa, kadar protein dalam urin saya tinggi,” tuturnya. Sejak itu, ia rutin berkonsultasi dan mengikuti anjuran diet, termasuk membatasi kuning telur. Dalam seminggu, ia kini hanya mengonsumsi putih telur sebagai sumber protein tambahan.

Perubahan tersebut diakuinya tidak mudah. Telur dadar setengah matang dengan kuning yang lembut sebelumnya menjadi menu sarapan favoritnya. Namun demi menjaga fungsi ginjalnya tetap stabil, ia memilih disiplin. “Dokter bilang ini untuk meringankan kerja ginjal saya. Jadi saya turuti,” katanya.

Kapan pembatasan ini perlu dilakukan sangat bergantung pada kondisi masing-masing pasien. Tidak semua orang dengan kencing berbusa otomatis dilarang makan kuning telur. Pemeriksaan laboratorium seperti urinalisis, kadar kreatinin, dan laju filtrasi glomerulus menjadi penentu utama. Jika fungsi ginjal masih normal dan proteinuria tidak signifikan, pembatasan mungkin belum diperlukan.

Bagaimana cara terbaik menyikapinya adalah dengan konsultasi rutin kepada dokter dan ahli gizi. Edukasi mengenai porsi dan variasi makanan menjadi kunci. Dalam banyak kasus, pendekatan diet yang seimbang rendah garam, terkontrol protein, serta cukup cairan—dapat membantu menstabilkan kondisi tanpa harus menghilangkan seluruh kenikmatan makan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) dalam panduan tata laksana penyakit ginjal kronis menekankan pentingnya pengaturan asupan protein dan mineral seperti fosfor pada pasien dengan penurunan fungsi ginjal. 

Studi yang dipublikasikan dalam  Clinical Journal of the American Society of Nephrology juga menunjukkan bahwa pembatasan fosfor dapat membantu memperlambat progresivitas penyakit ginjal pada kelompok tertentu.

Pada akhirnya, kencing berbusa bukanlah vonis, melainkan sinyal. Ia mengingatkan bahwa tubuh memiliki batas dan membutuhkan perhatian. Larangan terhadap kuning telur bukan bentuk ketakutan berlebihan, melainkan langkah hati-hati untuk menjaga sisa fungsi ginjal agar tetap bertahan.*

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: