Penderita Kencing Berbusa Dilarang Makan Kuning Telur, Ini Alasannya
Begini Cara Merebus dan Mengupas Telur Rebus agar Hasilnya Mulus dan Tidak Hancur--
RADARMUKOMUKO.COM - Buih tipis yang muncul di permukaan air toilet sering kali dianggap sepele. Namun bagi sebagian orang, kencing berbusa bukan sekadar fenomena biasa. Ia bisa menjadi isyarat sunyi dari tubuh yang tengah berjuang.
Di sejumlah klinik penyakit dalam di Indonesia, keluhan ini kian sering terdengar, terutama dari pasien dengan gangguan ginjal atau kadar protein tinggi dalam urin. Di tengah berbagai pantangan yang dianjurkan, satu hal kerap menjadi perbincangan: larangan mengonsumsi kuning telur.
Di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soetomo Surabaya, misalnya, dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, dr. Andi Prasetyo, SpPD-KGH, menjelaskan bahwa kencing berbusa umumnya berkaitan dengan proteinuria kondisi ketika protein bocor ke dalam urin akibat gangguan penyaringan ginjal.
“Jika ginjal tidak mampu menyaring dengan baik, protein yang seharusnya tetap berada di dalam darah akan keluar bersama urin. Inilah yang menimbulkan busa,” ujarnya dalam sebuah diskusi edukasi pasien, awal tahun ini.
Proteinuria kerap ditemukan pada penderita penyakit ginjal kronis, diabetes melitus, hipertensi yang tidak terkontrol, hingga sindrom nefrotik.
Dalam kondisi tersebut, pengaturan pola makan menjadi bagian penting dari terapi. Bukan sekadar mengurangi garam atau gula, tetapi juga mengontrol asupan protein dan lemak tertentu.
Di sinilah kuning telur menjadi sorotan. Telur selama ini dikenal sebagai sumber protein hewani berkualitas tinggi. Putih telur bahkan sering direkomendasikan karena kandungan proteinnya yang tinggi dan rendah lemak.
Namun bagian kuningnya menyimpan cerita berbeda. Kuning telur mengandung kolesterol dan fosfor dalam jumlah yang relatif tinggi. Bagi ginjal yang sudah mengalami gangguan, beban ini dapat memperparah kerja organ tersebut.
Menurut dr. Andi, penderita dengan proteinuria atau gangguan ginjal perlu membatasi asupan fosfor karena ginjal yang rusak kesulitan membuang mineral tersebut. “Fosfor yang menumpuk di dalam darah bisa menyebabkan gangguan tulang dan pembuluh darah.
Kuning telur termasuk bahan makanan dengan kandungan fosfor yang cukup tinggi,” katanya. Dalam satu butir telur ayam ukuran sedang, kandungan fosfor pada kuning telur dapat mencapai lebih dari separuh total fosfor telur.
Di Jakarta, ahli gizi klinis dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia, Siti Rahmawati, S.Gz., menambahkan bahwa pembatasan kuning telur bukan berarti telur harus dihindari sepenuhnya.
“Biasanya dokter masih memperbolehkan konsumsi putih telur karena proteinnya murni dan relatif rendah fosfor. Yang dibatasi adalah kuningnya, terutama pada pasien dengan fungsi ginjal menurun,” jelasnya.
Larangan tersebut bukan tanpa alasan. Ketika ginjal tidak bekerja optimal, kelebihan protein dan lemak tertentu dapat memperberat filtrasi glomerulus bagian ginjal yang berfungsi menyaring darah.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
