3 Jenis Kayu yang Tidak Dimakan Kumbang Serbuk

3 Jenis Kayu yang Tidak Dimakan Kumbang Serbuk

Jenis kayu--

RADARMUKOMUKO.COM - Kumbang serbuk kayu, hama kecil yang bekerja diam-diam, telah lama dike3 Jenis Kayu yang Tidak Dimakan Kumbang Serbuknal sebagai musuh utama material berbahan kayu. Ia menggerek dari dalam, meninggalkan lubang-lubang halus dan serbuk yang jatuh tanpa disadari.

Namun, tidak semua kayu tunduk pada serangan ini. Ada jenis-jenis kayu tertentu yang secara alami memiliki ketahanan tinggi, bahkan cenderung dihindari oleh kumbang serbuk.

Fenomena ini bukan sekadar mitos turun-temurun. Dalam dunia kehutanan dan pertukangan, pemilihan jenis kayu menjadi faktor penting yang menentukan usia pakai sebuah bangunan atau furnitur.

Menurut Ir. Hendra Prasetyo, pakar teknologi hasil hutan yang telah lebih dari dua dekade meneliti ketahanan kayu tropis, sifat alami kayu sangat menentukan kerentanannya terhadap hama.

“Kandungan kimia alami, kerapatan serat, serta kadar ekstraktif pada kayu berperan besar dalam menolak serangan kumbang serbuk,” ujarnya saat ditemui di sela-sela seminar kehutanan di Bogor, akhir tahun lalu.

Jenis kayu pertama yang dikenal memiliki ketahanan tinggi adalah kayu jati. Kayu ini telah lama menjadi primadona di Indonesia, digunakan sejak masa kerajaan hingga era modern untuk rumah, kapal, dan perabot mewah.

Jati tumbuh di berbagai wilayah tropis, terutama di Pulau Jawa, dan dikenal memiliki kandungan minyak alami serta senyawa toksik bagi serangga. Kandungan inilah yang membuat kumbang serbuk enggan berkembang biak di dalamnya.

“Serat jati sangat rapat dan minyak alaminya bersifat protektif. Itu sebabnya, jati bisa bertahan puluhan bahkan ratusan tahun,” jelas Hendra. Ketahanan ini membuat jati sering dipilih meski harganya relatif tinggi, karena sebanding dengan usia pakainya.

Kayu kedua yang tak kalah tangguh adalah kayu ulin, yang kerap dijuluki kayu besi. Berasal dari hutan Kalimantan, ulin dikenal sangat keras, berat, dan memiliki daya tahan luar biasa terhadap serangan hama, termasuk kumbang serbuk.

Dalam banyak kasus, kayu ulin bahkan tahan terhadap air dan cuaca ekstrem. Secara tradisional, masyarakat Kalimantan memanfaatkan ulin untuk tiang rumah, jembatan, dan konstruksi luar ruang.

“Kepadatan ulin sangat tinggi, sehingga kumbang serbuk sulit menggerek dan bertahan hidup di dalamnya,” kata Hendra. Selain itu, senyawa alami dalam kayu ini bersifat antimikroba dan anti-serangga, menjadikannya salah satu kayu paling awet di kawasan tropis.

Jenis kayu ketiga yang dikenal tidak disukai kumbang serbuk adalah kayu merbau. Kayu ini banyak ditemukan di wilayah Papua, Maluku, dan sebagian Sulawesi. Merbau memiliki warna cokelat kemerahan dengan serat yang indah, sehingga sering digunakan untuk lantai, kusen, dan furnitur berkualitas tinggi.

Keunggulan utama merbau terletak pada kandungan tanin dan zat ekstraktifnya yang tinggi. Zat ini memberikan rasa pahit dan sifat toksik bagi serangga perusak kayu. “Merbau bukan hanya kuat secara mekanis, tetapi juga memiliki perlindungan kimia alami. Itu yang membuatnya relatif aman dari kumbang serbuk,” ujar Hendra.

Ketahanan ketiga jenis kayu tersebut bukan berarti sepenuhnya kebal tanpa perawatan. Faktor lingkungan seperti kelembapan, sirkulasi udara, dan cara penggunaan tetap memengaruhi daya tahannya. Kayu yang dibiarkan lembap dalam waktu lama tetap berpotensi mengalami kerusakan, meski serangan kumbang serbuk jauh lebih kecil dibanding kayu lunak seperti sengon atau pinus. Oleh karena itu, pemanfaatan kayu tahan hama sebaiknya dibarengi dengan pengelolaan lingkungan yang baik.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: