DPRD MUKOMUKO, HUT 23 MUKOMUKO

Bukan Karena Sering Ngintip, Ini Penyebab Mata Bintitan

Bukan Karena Sering Ngintip, Ini Penyebab Mata Bintitan

mata bintitan disebabkan-Ilustrasi-

Produk tersebut dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri, lalu berpindah ke mata setiap kali digunakan.

Waktu terjadinya bintitan sering kali beriringan dengan kondisi tubuh yang lelah atau stres. Pada periode tekanan kerja tinggi, kurang tidur, atau setelah sakit, sistem imun tubuh cenderung melemah. 

BACA JUGA:Negara Paling Kecil, Bahkan Diantaranya Hanya Seukuran Sebuah Desa

BACA JUGA:Dada Ayam: Sumber Protein Tanpa Tanding untuk Tubuh Sehat dan Ideal!

Dalam kondisi ini, bakteri yang sebenarnya mudah dikendalikan dapat berkembang lebih agresif. Hal ini menjelaskan mengapa banyak orang mengalami bintitan saat tubuh tidak berada dalam kondisi prima.

Lingkungan juga berperan. Paparan debu, polusi, dan asap di perkotaan dapat mengiritasi mata dan memicu peradangan. Ketika iritasi ini diikuti kebiasaan menggosok mata, risiko infeksi semakin besar. 

“Mata adalah organ yang sangat sensitif. Sedikit saja iritasi, jika tidak dijaga, bisa berkembang menjadi infeksi,” kata dr. Rani.

Proses terjadinya bintitan dimulai dari tersumbatnya kelenjar minyak di kelopak mata. Sumbatan ini menciptakan lingkungan yang ideal bagi bakteri untuk berkembang. 

Tubuh kemudian merespons dengan peradangan, yang ditandai dengan kemerahan, nyeri, dan pembengkakan. 

Dalam beberapa hari, benjolan dapat berisi nanah dan terasa semakin tidak nyaman, terutama saat berkedip.

Penanganan bintitan sejatinya cukup sederhana bila dilakukan dengan tepat. Kompres hangat secara rutin membantu membuka sumbatan kelenjar dan mempercepat penyembuhan. 

Menjaga kebersihan mata, menghentikan sementara penggunaan kosmetik, serta menghindari menyentuh mata dengan tangan kotor menjadi langkah penting. 

Dalam kasus tertentu, dokter dapat meresepkan salep atau antibiotik bila infeksi tidak kunjung membaik.

Yang tak kalah penting adalah mengubah cara pandang. Bintitan bukanlah sesuatu yang memalukan atau perlu dikaitkan dengan stigma sosial.

 Ia adalah sinyal tubuh bahwa ada aspek kesehatan mata yang perlu diperhatikan. Edukasi yang benar membantu masyarakat lebih fokus pada pencegahan, bukan pada mitos yang menyesatkan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: