Sejarah Mudik di Indonesia dan Jejak Tradisi yang Terus Hidup

Selasa 17-03-2026,14:13 WIB
Reporter : Tim Redaksi RM
Editor : Tim Redaksi RM

Dalam pandangan Islam, perjalanan manusia berlanjut di alam kubur, sebuah fase yang disebut sebagai  barzakh.

Di berbagai daerah di Indonesia, muncul keyakinan yang berkembang di tengah masyarakat bahwa penghuni kubur akan “disiksa kembali” setelah hari raya Idul Fitri usai. 

Keyakinan ini sering disampaikan dalam ceramah atau percakapan keagamaan menjelang lebaran. Banyak orang kemudian memahami bahwa selama bulan Ramadan dan hari raya, penghuni kubur memperoleh keringanan, sebelum kemudian kembali menjalani kondisi yang mereka alami sebelumnya.

Fenomena pemahaman tersebut memunculkan perbincangan di kalangan ulama dan ahli fikih. Mereka mencoba menjelaskan bagaimana sebenarnya ajaran Islam memandang kehidupan di alam kubur serta apakah benar ada jeda siksa kubur yang berhenti selama Ramadan dan kembali setelah Idul Fitri.

Guru Besar Ilmu Hadis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Ali Mustafa Yaqub dalam berbagai kajian yang pernah disampaikannya menjelaskan bahwa konsep siksa kubur memang merupakan bagian dari akidah dalam Islam. 

Banyak hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa manusia akan mengalami kehidupan di alam barzakh sesuai dengan amal perbuatannya selama hidup di dunia.

“Siksa kubur adalah perkara yang diyakini dalam ajaran Islam karena disebutkan dalam banyak hadis sahih. Namun bentuk dan waktunya adalah urusan gaib yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan secara detail oleh manusia,” ujar Ali Mustafa Yaqub dalam salah satu kajian tafsir hadis.

Dalam kajian fikih klasik, para ulama menjelaskan bahwa alam kubur merupakan fase penantian sebelum hari kiamat. Di sana manusia merasakan kenikmatan atau kesulitan sesuai amalnya. Namun, sebagian ulama juga menyebut adanya rahmat Allah yang luas, termasuk kemungkinan keringanan bagi sebagian hamba-Nya pada waktu-waktu tertentu.

Bulan Ramadan sendiri dipandang sebagai masa yang penuh keberkahan. Banyak hadis menyebutkan bahwa pintu rahmat dibuka luas, dosa-dosa diampuni, dan setan-setan dibelenggu. Karena itu, dalam tradisi ceramah keagamaan sering muncul pandangan bahwa rahmat Ramadan juga meliputi penghuni kubur.

 

Ulama fikih dari Universitas Al-Azhar Kairo, Syekh Yusuf al-Qaradawi, dalam sejumlah tulisannya menjelaskan bahwa rahmat Allah pada bulan Ramadan memang sangat luas. Namun ia menekankan bahwa tidak ada dalil yang secara tegas menyebutkan siksa kubur berhenti total selama Ramadan.

“Rahmat Allah pada bulan Ramadan sangat besar bagi orang-orang yang masih hidup, terutama bagi mereka yang berpuasa dan beribadah. Adapun kondisi penghuni kubur tetap berada dalam ketetapan Allah sesuai amal mereka,” tulis Al-Qaradawi dalam kajian tentang keutamaan Ramadan.

Penjelasan tersebut membuat banyak ulama mengingatkan agar masyarakat tidak memahami secara harfiah ungkapan bahwa siksa kubur “berhenti” lalu “dimulai lagi” setelah Idul Fitri. Ungkapan tersebut lebih sering digunakan sebagai pendekatan dakwah untuk mengingatkan manusia tentang pentingnya memperbaiki amal selama Ramadan.

 

Di Indonesia, tradisi mengunjungi makam menjelang atau setelah Idul Fitri menjadi bagian dari budaya keagamaan yang sangat kuat. Keluarga datang ke pemakaman untuk mendoakan orang tua, kerabat, atau sahabat yang telah wafat. Suasana hening di antara nisan sering menghadirkan perenungan tentang perjalanan hidup manusia.

Menurut antropolog Universitas Gadjah Mada, Prof. Irwan Abdullah, tradisi ziarah kubur yang ramai menjelang lebaran memperlihatkan hubungan emosional yang kuat antara masyarakat dengan leluhur mereka.

Tags :
Kategori :

Terkait