RADARMUKOMUKO.COM - Bagi umat Islam di seluruh dunia, inilah fase paling istimewa dari Ramadan, karena diyakini di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan: Lailatul Qadar.
Keyakinan mengenai keutamaan malam tersebut tidak muncul begitu saja. Ia berakar kuat pada penjelasan Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW yang menegaskan bahwa Lailatul Qadar turun pada salah satu malam di sepuluh hari terakhir Ramadan.
Dalam Surah Al-Qadr, Allah menggambarkan malam itu sebagai waktu turunnya para malaikat bersama Ruh (Jibril) untuk mengatur segala urusan hingga terbit fajar. Gambaran ini menegaskan betapa agungnya malam tersebut dalam perjalanan spiritual seorang Muslim.
Dalam berbagai hadis sahih, Rasulullah SAW memberikan petunjuk kepada umatnya untuk mencari malam Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Riwayat dari Aisyah RA yang tercantum dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim menjelaskan bahwa Nabi meningkatkan ibadah secara luar biasa pada periode tersebut.
Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah menghidupkan malam dengan ibadah, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggang sebagai tanda kesungguhan dalam beribadah.
“Rasulullah memberikan teladan bahwa malam-malam terakhir Ramadan adalah waktu terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah. Beliau tidak hanya beribadah sendiri, tetapi juga membangunkan keluarganya agar tidak melewatkan kesempatan tersebut,” jelas Ahmad Umar Hasyim dalam salah satu ceramah ilmiahnya yang banyak dirujuk dalam kajian keislaman.
Hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari memberikan petunjuk lebih spesifik mengenai waktu kemunculan Lailatul Qadar. Dalam riwayat tersebut Rasulullah bersabda agar umat Islam mencarinya pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan. Malam-malam seperti tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadan sering disebut sebagai waktu yang paling berpeluang menghadirkan malam penuh kemuliaan itu.
Menurut Guru Besar Studi Islam dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Prof. Quraish Shihab, kerahasiaan waktu Lailatul Qadar merupakan bagian dari pendidikan spiritual dalam Islam. Ia menjelaskan bahwa Allah sengaja tidak menyebutkan malam tersebut secara pasti agar manusia terdorong untuk beribadah secara konsisten.
“Bila waktu Lailatul Qadar disebutkan secara jelas, kemungkinan besar manusia hanya akan beribadah pada malam itu saja. Dengan dirahasiakannya waktu tersebut, umat Islam diajak untuk menghidupkan seluruh malam di penghujung Ramadan,” tulis Quraish Shihab dalam sejumlah tafsir dan kajian Ramadan.
Salah satu doa yang diajarkan langsung oleh Rasulullah kepada Aisyah RA ketika mencari Lailatul Qadar adalah doa memohon ampunan. Dalam hadis riwayat Tirmidzi disebutkan bahwa Nabi mengajarkan doa: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni yang berarti, “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
Doa tersebut menjadi salah satu amalan yang paling banyak dibaca umat Islam ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan. Para ulama menilai doa ini menggambarkan inti dari pencarian Lailatul Qadar, yaitu harapan mendapatkan ampunan dan rahmat dari Allah SWT.