RADARMUKOMUKO.COM - Ketupat merupakan makanan khas Asia Tenggara. Ketupat biasanya disajikan bersama opor ayam, rendang, atau gulai kambing saat perayaan Idul Fitri.
Menurut beberapa sumber, ketupat berasal dari kata “kupat” yang memiliki arti ganda, yaitu ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (empat tindakan).
Ngaku lepat menggambarkan sesama umat muslim harus lapang dalam mengakui kesalahan dan saling memaafkan.
Sedangkan, laku papat menggambarkan empat tindakan, yaitu luberan (melimpah), leburan (melebur dosa), lebaran (pintu ampunan terbuka lebar), dan laburan (menyucikan diri).
Di sisi lain, isian beras pada ketupat memiliki lambang sebagai hawa nafsu.
BACA JUGA:Pemandu Karaoke Didatangi Tim Gabungan Pemda, TNI dan Kepolisian
BACA JUGA:Ikuti Fun Run 5 Km KONI Mukomuko, Seru dan Berhadiah Puluhan Juta
Sedangkan, janur sebagai kulit ketupat tersebut berasal dari kata jatining nur yang berarti cahaya sejati (hati nurani).
Sehingga, ketupat memiliki melambangkan manusia yang menahan nafsu dengan mengikuti hati nuraninya.
Dilansir dari berbagai sumber, ketupat sudah dikenal sejak era Kerajaan Demak, yaitu pada abad ke-15.
Seorang ahli sejarah dari Belanda, Hermanus Johannes de Graaf, dalam bukunya yang berjudul Malay Annual, ketupat pertama kali muncul di daerah Jawa, tepatnya ketika kepemimpinan Kerajaan Demak.
Kemunculan ketupat tersebut merupakan bagian dari penyebaran agama Islam yang dibawa oleh Sunan Kalijaga. Ketupat digunakan untuk melakukan pendekatan dakwah dalam sistem budaya.
Karena, ketupat dipercaya dapat menjadi alat yang lebih familiar bagi masyarakat Jawa yang kental pada saat itu.
BACA JUGA:Puasa ke 18 Ramadhan 1447 Hijriah, Berikut Waktu Berbuka Hari Ini