Meski demikian, para narasumber sepakat bahwa teknologi bukanlah musuh. Video call dapat menjadi sarana komunikasi yang positif jika digunakan dengan bijak. Tantangannya terletak pada batasan dan pendampingan.
Orang tua memiliki peran penting dalam membangun komunikasi terbuka dengan anak. Larangan keras tanpa dialog justru berpotensi mendorong remaja mencari celah secara sembunyi-sembunyi.
Pendekatan yang disarankan adalah edukasi dan kesepakatan bersama. Orang tua dapat menetapkan durasi penggunaan gawai, terutama pada malam hari, serta memberikan pemahaman tentang risiko berbagi konten pribadi. Sekolah pun dapat memperkuat literasi digital melalui kurikulum yang relevan dengan kehidupan remaja saat ini.
Arif menekankan pentingnya kesadaran bahwa ruang digital bukan ruang privat sepenuhnya. “Remaja perlu memahami bahwa setiap tindakan di dunia maya memiliki konsekuensi nyata. Rasa percaya tidak boleh mengalahkan kewaspadaan,” katanya.
Sumber berita:
1. Steinberg, L. (2014). Age of Opportunity: Lessons from the New Science of Adolescence Houghton Mifflin Harcourt.
2. World Health Organization (2019). Adolescent mental health.