Tiga Jenis Jamur Hutan yang Aman Dikonsumsi dan Tidak Menimbulkan Efek Mabuk

Jumat 20-02-2026,13:29 WIB
Reporter : Tim Redaksi RM
Editor : Tim Redaksi RM

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Ethnopharmacology mencatat bahwa pakis ini juga mengandung senyawa antioksidan yang berpotensi mendukung kesehatan sel tubuh. Di sejumlah daerah Asia, pucuknya bahkan digunakan dalam pengobatan tradisional untuk membantu pemulihan setelah sakit.

Sementara itu, Stenochlaena palustris* juga tak kalah populer. Di Kalimantan dan sebagian wilayah Sumatera, pakis ini dikenal dengan nama kelakai atau miding. Ciri khasnya terletak pada batang kemerahan dan daun muda yang lebih ramping. Berbeda dengan Diplazium esculentum yang tumbuh berumpun di tanah lembap,  Stenochlaena palustris kerap merambat di lahan gambut dan rawa.

Hendra, seorang warga yang tinggal di kawasan tepian Sungai Kapuas, Kalimantan Barat, mengatakan bahwa kelakai sudah menjadi bagian dari menu harian masyarakat setempat. 

“Kami biasa memasaknya dengan bawang dan sedikit terasi. Rasanya khas dan agak manis,” katanya. Ia menambahkan bahwa orang tua di kampungnya selalu mengajarkan cara memilih pucuk yang masih lunak agar tidak getir saat dimasak.

Dari sisi ilmiah, Stenochlaena palustris termasuk dalam famili Blechnaceae. Studi yang dimuat dalam  International Food Research Journal menunjukkan bahwa pakis ini mengandung zat besi cukup tinggi, sehingga sering direkomendasikan sebagai sumber nutrisi tambahan, khususnya bagi perempuan dan anak-anak. Kandungan flavonoid dan fenoliknya juga dikaitkan dengan aktivitas antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh.

Meski demikian, para ahli botani mengingatkan bahwa tidak semua pakis aman dikonsumsi. Beberapa spesies mengandung zat yang berpotensi toksik apabila dikonsumsi dalam jumlah besar atau tanpa pengolahan yang tepat. Oleh sebab itu, identifikasi yang akurat menjadi langkah krusial sebelum memetik dan mengolahnya.

Dosen botani dari salah satu perguruan tinggi di Sumatera, Dr. Lestari Wibowo, menjelaskan bahwa masyarakat sebaiknya hanya mengonsumsi pakis yang sudah dikenal luas dan memiliki referensi ilmiah jelas. 

“Nama latin penting untuk memastikan identitas spesies. Kesalahan identifikasi bisa berisiko, karena beberapa pakis liar memiliki morfologi yang mirip,” ujarnya dalam sebuah diskusi lingkungan beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan bahwa pengolahan juga memengaruhi keamanan konsumsi. Pakis sebaiknya direbus atau dimasak hingga matang untuk mengurangi kemungkinan adanya senyawa yang tidak diinginkan. Praktik ini telah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat desa, bahkan sebelum penelitian modern mengonfirmasi manfaat dan keamanannya.

Sumber berita:

1. Journal of Ethnopharmacology – Nutritional and antioxidant properties of Diplazium esculentum.

2. International Food Research Journal – Phytochemical and mineral analysis of Stenochlaena palustris.

3. Flora of China & Plants of the World Online (Kew Science) – Data taksonomi dan distribusi spesies pakis tropis.

 

 

Tags :
Kategori :

Terkait