Media sosial menjadi sarana efektif untuk menjangkau pembeli muda yang kini mulai aktif memilih perlengkapan ibadah sendiri. Visual yang menampilkan sarung dipadukan dengan busana modern memperluas daya tarik produk, terutama di kalangan generasi milenial.
Meski demikian, persaingan tetap sehat. Pedagang kecil berupaya menyediakan alternatif dengan harga lebih bersahabat tanpa mengorbankan kualitas. Aminah menuturkan bahwa ia juga menjual sarung produksi lokal dengan bahan yang tidak kalah nyaman. “Ada pembeli yang memang mencari merek terkenal, tapi ada juga yang lebih fokus pada harga dan motif,” ujarnya.
Di tengah rak-rak yang perlahan menipis, Ramadan menghadirkan dinamika ekonomi yang khas. Sarung, yang bagi sebagian orang tampak sederhana, justru menjadi komoditas penting dalam siklus tahunan ini. Ia menyatukan nilai ibadah, tradisi, dan gaya dalam satu helai kain yang dikenakan dengan khidmat.
Ketika malam-malam Ramadan dipenuhi lantunan doa dan langkah menuju masjid, sarung yang melingkar di pinggang para jamaah menjadi bagian dari pemandangan yang akrab.
Merek boleh berbeda, motif bisa beragam, tetapi tujuan pemakaiannya tetap sama: menghadirkan kenyamanan dalam beribadah dan merayakan hari suci dengan penuh hormat. Di situlah letak makna di balik tingginya pencarian merek sarung setiap bulan Ramadan, sebuah perpaduan antara kebutuhan spiritual dan dinamika pasar yang bergerak selaras dengan tradisi.
Sumber berita:
1. Badan Pusat Statistik. 2023. Pola Konsumsi Rumah Tangga Selama Ramadan dan Idulfitri.
2. Hidayat, R. 2021. “Perilaku Konsumsi Muslim dalam Momentum Keagamaan.” Jurnal Ekonomi Syariah Indonesia.
3. Bank Indonesia. 2023. Laporan Perkembangan Ekonomi Daerah dan Konsumsi Musiman.