Ini Manfaat Secara Psikologi bagi yang Sering Pergi Wisata

Sabtu 14-02-2026,12:25 WIB
Reporter : Tim Redaksi RM
Editor : Tim Redaksi RM

Namun manfaat psikologis tidak muncul begitu saja tanpa kesadaran. Cara seseorang menjalani perjalanan turut menentukan dampaknya. Jika wisata dipenuhi jadwal padat demi mengejar konten media sosial, tubuh mungkin berpindah tempat, tetapi pikiran tetap tertekan. “Kuncinya adalah hadir secara utuh dalam pengalaman. 

Nikmati prosesnya, bukan hanya hasil fotonya,” ujar Dr. Lintang. Ia menganjurkan agar wisatawan memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat, tidak terlalu memaksakan agenda.

Dalam jangka panjang, kebiasaan bepergian secara berkala dapat membantu mencegah kelelahan kerja atau burnout. Organisasi Kesehatan Dunia telah mengakui burnout sebagai fenomena akibat stres kerja kronis yang tidak dikelola dengan baik. Mengambil waktu libur yang berkualitas menjadi salah satu langkah preventif. Perjalanan memberi perspektif baru, mengingatkan bahwa hidup tidak semata tentang target dan tenggat waktu.

Di tengah ritme kehidupan yang kian cepat, wisata menjadi jembatan antara kesibukan dan keseimbangan. Ia membuka ruang bagi tawa yang lebih lepas, tidur yang lebih nyenyak, serta pikiran yang lebih jernih. 

Sumber berita:

1. Chen, C. C., Petrick, J. F., & Shahvali, M. (2016). Tourism experiences as a stress reliever: Examining the effects of tourism recovery experiences on life satisfaction. Journal of Travel Research, 55(2), 150–160.

2. Kaplan, S. (1995). The restorative benefits of nature: Toward an integrative framework. Journal of Environmental Psychology, 15(3), 169–182.

3. World Health Organization. (2019). Burn-out an occupational phenomenon: International Classification of Diseases.

 

Tags :
Kategori :

Terkait