RADARMUKOMUKO.COM - Di tengah tantangan krisis pangan global dan perubahan iklim yang tidak menentu, Indonesia perlu melirik kembali kekayaan agraris yang selama ini sering dianggap sebelah mata. Salah satu komoditas yang menyimpan potensi luar biasa adalah singkong. Bukan sekadar bahan pangan tradisional atau "makanan desa," singkong kini menempati posisi strategis sebagai pilar penting dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan.
Singkong memiliki keunggulan komparatif yang sulit ditandingi oleh tanaman serealia lainnya seperti padi atau gandum. Pertama, daya adaptasinya sangat tinggi. Singkong mampu tumbuh subur di lahan marginal yang kurang subur serta memiliki ketahanan yang luar biasa terhadap kekeringan. Karakteristik ini menjadikannya tanaman masa depan di tengah fenomena pemanasan global yang mengancam produktivitas lahan pertanian konvensional.
Dari sisi nutrisi, singkong adalah sumber karbohidrat yang sangat baik. Sebagai pangan fungsional, singkong memiliki indeks glikemik yang relatif rendah dibandingkan nasi putih, menjadikannya pilihan yang lebih sehat dalam mencegah penyakit metabolik seperti diabetes. Selain umbinya, daun singkong juga kaya akan protein dan mineral, memberikan paket nutrisi lengkap bagi masyarakat.
Namun, potensi besar ini tidak akan maksimal tanpa adanya hilirisasi dan diversifikasi produk. Saat ini, pemanfaatan singkong telah bertransformasi jauh melampaui keripik atau singkong rebus. Melalui teknologi pangan, singkong dapat diolah menjadi tepung Mocaf (Modified Cassava Flour). Tepung ini memiliki karakteristik yang mirip dengan terigu, sehingga mampu menjadi substitusi impor gandum yang selama ini membebani neraca perdagangan Indonesia. Dengan memaksimalkan penggunaan Mocaf dalam industri roti, mi, dan kue, Indonesia dapat secara bertahap mengurangi ketergantungan pada pangan impor.
Lebih jauh lagi, pengembangan singkong berdampak langsung pada penguatan ekonomi kerakyatan. Sebagian besar perkebunan singkong di Indonesia dikelola oleh petani kecil. Dengan meningkatkan standar budidaya dan menjamin rantai pasok yang adil dari hulu ke hilir, kesejahteraan petani dapat terangkat. Pemerintah dan sektor swasta perlu bersinergi dalam menyediakan akses teknologi pascapanen agar nilai tambah komoditas ini tetap dinikmati oleh para produsen lokal di pedesaan.
Ketahanan pangan bukan berarti semua orang harus makan nasi. Diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal adalah kunci kedaulatan yang sesungguhnya. Menjadikan singkong sebagai pendamping atau alternatif utama beras akan menciptakan sistem pangan yang lebih tangguh dan tidak mudah goyah oleh fluktuasi harga komoditas global. Indonesia memiliki lahan yang luas dan iklim yang mendukung untuk menjadi pemain utama singkong di tingkat dunia.
Sebagai penutup, singkong bukan lagi simbol kemiskinan, melainkan simbol kemandirian. Mengangkat derajat singkong berarti menghargai identitas pangan lokal sekaligus memproteksi masa depan perut bangsa. Dengan dukungan riset yang kuat, investasi pada industri pengolahan, serta perubahan pola konsumsi masyarakat yang mulai mengapresiasi pangan lokal, singkong siap menjadi pahlawan ketahanan pangan nasional. Saatnya kita bangga mengonsumsi hasil bumi sendiri demi Indonesia yang lebih berdaulat secara pangan.