Kafein dalam Teh Ternyata Lebih Rendah dari Kafein dalam Kopi, Ini Ulasannya

Senin 02-02-2026,09:58 WIB
Reporter : Tim Redaksi RM
Editor : Tim Redaksi RM

RADARMUKOMUKO.COM - Aroma teh yang mengepul di pagi hari kerap diasosiasikan dengan ketenangan, sementara secangkir kopi sering menjadi simbol energi dan semangat. 

Di balik kebiasaan sederhana itu, tersimpan fakta menarik tentang kandungan kafein yang selama ini kerap disalahpahami. Banyak orang mengira teh dan kopi memberi dorongan energi yang setara. 

Padahal, kandungan kafein dalam teh pada umumnya lebih rendah dibandingkan kopi, dengan efek yang juga berbeda pada tubuh.

Teh dan kopi sama-sama menjadi minuman favorit lintas generasi, dikonsumsi di rumah, kantor, hingga ruang-ruang publik. Namun, siapa yang mengonsumsi, kapan diminum, dan dalam situasi apa, kerap menentukan pilihan di antara keduanya. 

Di Indonesia, kopi sering dipilih saat bekerja atau begadang, sedangkan teh hadir sebagai teman sarapan atau penutup sore hari. Perbedaan ini tidak lepas dari karakter kafein yang terkandung di dalamnya.

Menurut dr. Rina Prameswari, MSc, ahli gizi klinis dari Jakarta, secangkir kopi seduh rata-rata mengandung kafein sekitar 80–120 miligram, tergantung jenis biji dan metode penyeduhan. 

Sementara itu, teh hitam mengandung sekitar 40–60 miligram kafein per cangkir, dan teh hijau bahkan lebih rendah, berkisar 20–40 miligram. “Secara kuantitas, kafein dalam teh memang lebih sedikit. Itu sebabnya efek stimulasinya terasa lebih lembut,” ujar Rina.

Perbedaan ini tidak hanya soal angka. Cara kafein bekerja dalam tubuh juga dipengaruhi oleh senyawa lain yang menyertainya. 

Teh mengandung L-theanine, asam amino yang memberi efek menenangkan pada sistem saraf. Kombinasi kafein dan L-theanine membuat peningkatan kewaspadaan berlangsung lebih stabil, tanpa lonjakan energi mendadak. 

Kopi, di sisi lain, memberikan efek stimulan yang lebih cepat dan kuat, karena kafeinnya berdiri sendiri tanpa penyeimbang alami.

Di berbagai belahan dunia, teh telah lama dikaitkan dengan ritual ketenangan dan kesehatan. Di Asia Timur, misalnya, teh diminum sebagai bagian dari meditasi atau pertemuan sosial yang menenangkan.

 Hal ini sejalan dengan temuan ilmiah bahwa kafein dalam teh dilepaskan lebih perlahan ke aliran darah. “Itulah mengapa peminum teh jarang mengalami jantung berdebar atau gelisah berlebihan seperti yang kadang dirasakan peminum kopi,” jelas Prof. Ahmad Suryanto, peneliti pangan dari Universitas Gadjah Mada.

Meski lebih rendah kafein, teh tetap memberi manfaat bagi konsentrasi dan fokus. Dalam jangka waktu panjang, konsumsi teh secara moderat bahkan dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular. 

Kandungan antioksidan seperti katekin dan flavonoid berperan penting dalam melindungi sel tubuh dari stres oksidatif. Kopi pun memiliki keunggulan tersendiri, terutama kandungan polifenol yang mendukung kesehatan metabolik, asalkan dikonsumsi tanpa gula berlebih.

Bagaimana dengan waktu konsumsi? Banyak ahli menyarankan kopi diminum pada pagi hingga siang hari, saat tubuh membutuhkan dorongan energi. Teh lebih fleksibel, dapat dinikmati hingga sore atau malam hari tanpa terlalu mengganggu kualitas tidur, terutama jika memilih teh hijau atau teh herbal dengan kafein minimal. “Pemilihan minuman sebaiknya disesuaikan dengan ritme tubuh dan kebutuhan aktivitas,” kata Prof. Ahmad.

Tags :
Kategori :

Terkait