Menurut Pakar, Ini Alasan Pelajaran Islam di Sekolah Negeri Terus Berkurang
Kementerian Pendidikan Indonesia, Universitas Islam Negeri Jakarta, jurnal pendidikan nasional, wawancara guru sekolah negeri, kajian pendidikan Indonesia-RADARMUKOMUKO.COM - -Sumber Ai
RADARMUKOMUKO.COM -Di tengah perubahan sistem pendidikan yang semakin dinamis, pelajaran agama Islam di sekolah negeri perlahan mengalami penyusutan ruang. Fenomena ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang dipengaruhi kebijakan pendidikan, perubahan kurikulum, hingga tuntutan global.
Di ruang-ruang kelas yang dahulu memberikan ruang lebih luas bagi pendidikan keislaman, kini alokasi waktunya terasa semakin terbatas. Mata pelajaran lain yang dianggap lebih relevan dengan kebutuhan masa depan, seperti sains dan teknologi, mulai mendominasi.
Kurikulum Baru Jadi Faktor Utama
Perubahan ini mulai terasa dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak penyesuaian kurikulum nasional yang menekankan penguatan kompetensi sains, teknologi, dan literasi global.
Di banyak sekolah negeri, jam pelajaran agama Islam mengalami pengurangan. Materi yang sebelumnya diajarkan beberapa kali dalam seminggu kini dipadatkan dalam waktu yang lebih singkat.
Pengaruh Globalisasi Pendidikan
Menurut Dr. Ahmad Fauzi, pakar pendidikan Islam dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, kondisi ini tidak lepas dari arah kebijakan pendidikan yang mengikuti perkembangan global.
“Kita berada dalam arus globalisasi yang menuntut penguasaan sains dan teknologi. Dalam konteks ini, pelajaran agama sering dianggap kurang relevan dalam kompetisi global,” ujarnya.
Namun, ia menegaskan bahwa pandangan tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Pentingnya Pendidikan Karakter
Dr. Fauzi menilai bahwa pendidikan agama memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan integritas siswa.
“Jika hanya fokus pada aspek kognitif, kita berisiko melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi lemah secara moral,” jelasnya.
Pendidikan agama, menurutnya, menjadi fondasi penting dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
BACA JUGA:Hari Pertama Sekolah, Seluruh Guru dan Murid di SDN 03 Lubuk Pinang Hadir
Guru Harus Putar Strategi
Dampak pengurangan jam pelajaran ini juga dirasakan langsung oleh para guru.
Siti Nurhayati, guru Pendidikan Agama Islam di salah satu sekolah negeri di Sumatera, mengaku harus menyesuaikan metode pengajaran.
“Dengan waktu yang terbatas, kami harus memilih materi yang paling penting. Tidak semua bisa dibahas secara mendalam seperti dulu,” katanya.
Dampak bagi Siswa
Berkurangnya jam pelajaran agama berpotensi memengaruhi pemahaman siswa terhadap nilai-nilai moral dan spiritual.
Jika tidak diimbangi dengan pendidikan karakter di luar kelas, kekhawatiran akan menurunnya kualitas akhlak generasi muda bisa menjadi nyata.
Perlu Keseimbangan dalam Pendidikan
Para pakar menilai bahwa sistem pendidikan idealnya tidak hanya fokus pada kemampuan akademik, tetapi juga keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter.
Pendidikan agama tetap memiliki peran penting sebagai penyeimbang di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi.
Kesimpulan
Berkurangnya jam pelajaran Islam di sekolah negeri merupakan dampak dari perubahan kebijakan dan tuntutan zaman. Namun, penting bagi dunia pendidikan untuk tetap menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kekuatan moral.
Dengan pendekatan yang tepat, pendidikan agama tetap dapat menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga berkarakter kuat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: kementerian pendidikan indonesia