DPRD MUKOMUKO, HUT 23 MUKOMUKO

Sejarah Mudik di Indonesia dan Jejak Tradisi yang Terus Hidup

Sejarah Mudik di Indonesia dan Jejak Tradisi yang Terus Hidup

Sejarah Mudik di Indonesia dan Jejak Tradisi yang Terus Hidup--

RADARMUKOMUKO.COM -  Tradisi mudik tidak muncul secara tiba-tiba. Para sejarawan menelusuri akar kebiasaan ini jauh sebelum Indonesia merdeka. Istilah “mudik” sendiri berasal dari bahasa Jawa, yakni dari kata  udik  yang berarti hulu atau kampung halaman. 

Dalam konteks masyarakat agraris di Jawa pada masa lampau, mudik merujuk pada kebiasaan kembali ke desa asal setelah bekerja di daerah lain, terutama ketika memasuki momen penting seperti panen atau hari raya keagamaan.

Sejarawan Universitas Indonesia, JJ Rizal, menjelaskan bahwa tradisi pulang ke kampung halaman sudah terjadi sejak masa kolonial Belanda. 

Pada awal abad ke-20, banyak penduduk desa berpindah ke kota-kota besar seperti Batavia, Surabaya, dan Semarang untuk bekerja sebagai buruh atau pegawai di sektor perdagangan dan administrasi kolonial. 

Ketika hari raya Idul Fitri tiba, mereka memanfaatkan kesempatan libur untuk kembali ke desa tempat keluarga mereka tinggal.

“Fenomena ini mulai terlihat jelas sejak awal 1900-an ketika urbanisasi meningkat di kota-kota kolonial. Para pekerja dari desa pulang ke kampung untuk merayakan lebaran bersama keluarga,” ujar JJ Rizal dalam beberapa kajian sejarah sosial tentang budaya perkotaan di Hindia Belanda.

Pada masa itu, perjalanan pulang tidaklah mudah. Transportasi masih terbatas pada kereta api, kapal, atau perjalanan darat dengan waktu tempuh yang panjang. Namun keterbatasan tersebut tidak menghalangi orang untuk pulang. Bagi banyak pekerja perantauan, lebaran menjadi momen yang hampir sakral untuk kembali bertemu orang tua, saudara, dan tetangga di kampung.

Setelah Indonesia merdeka, tradisi mudik semakin berkembang seiring dengan meningkatnya mobilitas penduduk. Pada dekade 1960-an hingga 1970-an, urbanisasi di kota-kota besar meningkat pesat. Jakarta, sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi, menarik banyak pendatang dari berbagai daerah. Fenomena ini kemudian memperkuat tradisi mudik setiap menjelang Idul Fitri.

Menurut sosiolog Universitas Gadjah Mada, Sunyoto Usman, mudik bukan sekadar perjalanan pulang, tetapi juga bentuk ikatan sosial antara masyarakat kota dan desa. Ia menjelaskan bahwa hubungan emosional dengan kampung halaman membuat para perantau merasa memiliki kewajiban moral untuk kembali setidaknya sekali dalam setahun.

“Mudik adalah simbol hubungan yang tidak terputus antara perantau dan akar sosialnya. Meski tinggal di kota, mereka tetap merasa bagian dari komunitas di desa,” kata Sunyoto dalam kajian mengenai mobilitas sosial masyarakat Indonesia.

 

Pada era 1980-an hingga 1990-an, mudik mulai menjadi fenomena nasional yang sangat besar. Pemerintah mulai memperhatikan lonjakan jumlah pemudik yang meningkat setiap tahun. Jalan raya utama di Pulau Jawa sering dipenuhi kendaraan pribadi, bus antarkota, dan sepeda motor yang membawa keluarga menuju kampung halaman.

Media massa pada masa itu mulai menggunakan istilah “arus mudik” untuk menggambarkan gelombang perjalanan besar menjelang lebaran. Pemerintah pun melakukan berbagai persiapan, mulai dari pengaturan lalu lintas hingga penyediaan transportasi tambahan.

Pandangan Fiqih tentang Kehidupan Alam Kubur dan Setelah Idul Fitri

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: