Karomah Sahabat Nabi Abu Bakar

Karomah Sahabat Nabi Abu Bakar

Karomah Sahabat Nabi Abu Bakar--

RADARMUKOMUKO.COM -  Di tengah sunyi Gua Tsur pada malam hijrah yang menegangkan, dua sosok bersembunyi dari kejaran kaum Quraisy. Nafas sejarah terasa berat di ruang sempit itu. Di luar, langkah para pengejar semakin dekat, sementara di dalam gua, Abu Bakar Ash-Shiddiq duduk di samping Rasulullah SAW dengan hati yang bergetar, namun tetap teguh. 

Ketika kecemasan menyelimuti, Rasulullah menenangkannya dengan kalimat yang kemudian diabadikan Al-Qur’an, bahwa Allah bersama mereka. Peristiwa itu bukan sekadar kisah pelarian, melainkan jejak awal karomah yang menyertai kehidupan Abu Bakar seorang sahabat yang imannya menjadi sandaran umat di masa-masa genting.

Abu Bakar lahir di Makkah dari Bani Taim dan dikenal sebagai saudagar jujur sebelum Islam datang. Ia termasuk orang pertama yang memeluk Islam, tanpa ragu dan tanpa syarat. Sejak awal dakwah, ia berdiri di sisi Nabi, mengorbankan harta dan keselamatan dirinya. 

Ketika tekanan Quraisy semakin keras pada tahun 622 M, ia menjadi satu-satunya sahabat yang dipilih mendampingi Rasulullah berhijrah ke Madinah. Di Gua Tsur itulah, ketenangan Abu Bakar diuji. Ia sempat khawatir jika para pengejar menundukkan kepala, mereka akan melihat keberadaan Nabi. 

Namun keyakinannya teguh setelah mendengar janji pertolongan Allah. Para ulama tafsir, seperti Ibnu Katsir dalam  Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim, menjelaskan bahwa ketenangan yang turun di gua itu merupakan bentuk pertolongan ilahi yang menyertai keduanya, dan kemuliaan tersebut menjadi salah satu tanda keutamaan Abu Bakar.

Karomah Abu Bakar juga tampak dalam keberanian moralnya setelah wafatnya Rasulullah pada tahun 632 M di Madinah. Saat sebagian kaum Muslimin terguncang dan tak percaya Nabi telah tiada, Abu Bakar berdiri di Masjid Nabawi menyampaikan pidato yang meneguhkan. Ia mengutip ayat Al-Qur’an bahwa Muhammad hanyalah seorang rasul, dan siapa yang menyembah Allah, maka Allah Mahahidup dan tidak akan mati. Ucapan itu menenangkan umat yang hampir terpecah. 

Menurut sejarawan Prof. Dr. Badri Yatim, momen tersebut menjadi bukti kekuatan spiritual Abu Bakar. “Keteguhan sikapnya menyelamatkan stabilitas umat pada detik paling kritis dalam sejarah Islam,” tulisnya dalam kajian sejarah peradaban Islam.

Dalam masa kekhalifahannya yang berlangsung sekitar dua tahun, Abu Bakar menghadapi gelombang pemberontakan dan kemunculan nabi-nabi palsu di berbagai wilayah Arab. Banyak kabilah menolak membayar zakat setelah wafatnya Rasulullah. 

Di tengah situasi yang rawan, Abu Bakar menunjukkan ketegasan yang mengejutkan sebagian sahabat. Ia bersumpah akan memerangi siapa pun yang memisahkan antara shalat dan zakat. 

Keputusan itu bukan sekadar kebijakan politik, melainkan wujud keyakinan bahwa ajaran Islam tidak dapat dipilah-pilah. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi menilai ketegasan tersebut sebagai ilham yang lahir dari keimanan mendalam. “Abu Bakar memahami bahwa kompromi terhadap prinsip akan meruntuhkan fondasi umat,” tulisnya dalam biografi Ash-Shiddiq.

Salah satu peristiwa yang sering disebut sebagai karomah Abu Bakar adalah firasatnya menjelang wafat. Dalam riwayat yang dicatat Imam Malik dalam Al-Muwaththa, Abu Bakar berwasiat agar sebagian hartanya dikembalikan ke baitul mal karena ia merasa telah menggunakan fasilitas negara lebih dari yang semestinya. 

Ia juga mengisyaratkan bahwa Umar bin Khattab layak menggantikannya sebagai khalifah, keputusan yang terbukti membawa stabilitas dan perluasan wilayah Islam. Pilihan tersebut dipandang banyak ulama sebagai ketajaman pandangan yang diberi petunjuk oleh Allah.

Karomah lainnya tercermin dalam keberkahan hartanya. Sejak awal Islam, Abu Bakar dikenal membebaskan budak-budak yang disiksa karena iman mereka, termasuk Bilal bin Rabah. Ia menginfakkan sebagian besar kekayaannya untuk perjuangan dakwah. 

Rasulullah SAW pernah menyatakan dalam hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi bahwa tidak ada harta yang lebih bermanfaat baginya selain harta Abu Bakar. Keikhlasan dalam memberi itulah yang diyakini para ulama sebagai sebab turunnya keberkahan yang melimpah dalam hidupnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: