Obat Alami Basmi Kumbang Tanduk Perusak Pohon Sawit

Obat Alami Basmi Kumbang Tanduk Perusak Pohon Sawit

--

RADARMUKOMUKO.COM Di tengah hamparan kebun sawit yang tampak hijau dan menjanjikan, ancaman kerap datang tanpa suara. Pohon-pohon yang semula tegak dan produktif bisa mendadak menunjukkan gejala melemah, daun muda rusak, dan titik tumbuh terganggu. 

Di balik kerusakan itu, kumbang tanduk atau Oryctes rhinoceros sering menjadi biang keladi. Hama ini dikenal sebagai salah satu perusak utama tanaman sawit, terutama pada fase tanaman muda, dan keberadaannya menuntut penanganan yang tepat, berkelanjutan, serta ramah lingkungan.

Kumbang tanduk menyerang dengan cara menggerek pucuk dan jaringan lunak tanaman. Aktivitas ini umumnya terjadi pada malam hari, ketika serangga dewasa aktif mencari inang. 

Serangan yang berlangsung terus-menerus dapat menghambat pertumbuhan, menurunkan produktivitas, bahkan menyebabkan kematian tanaman. 

Menurut peneliti hama tanaman dari Balai Proteksi Tanaman Perkebunan, Dr. Rudi Hartono, serangan Oryctes rhinoceros banyak ditemukan pada kebun sawit yang memiliki tumpukan bahan organik membusuk. “Lingkungan lembap dan kaya sisa tanaman menjadi tempat ideal bagi kumbang tanduk untuk berkembang biak,” ujarnya.

Kesadaran akan dampak lingkungan dari pestisida kimia mendorong banyak petani beralih pada obat alami sebagai solusi pengendalian. Pendekatan ini tidak hanya menekan populasi hama, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem kebun. 

Salah satu bahan alami yang banyak dimanfaatkan adalah jamur entomopatogen Metarhizium anisopliae. Jamur ini bekerja dengan menginfeksi tubuh kumbang hingga menyebabkan kematian. 

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Invertebrate Pathology menunjukkan bahwa aplikasi Metarhizium secara rutin mampu menurunkan populasi kumbang tanduk secara signifikan dalam beberapa minggu.

 

Selain jamur, tanaman mimba juga dikenal efektif sebagai insektisida alami. Ekstrak biji dan daun mimba mengandung azadirachtin, senyawa aktif yang mengganggu sistem hormon serangga. 

Dalam praktik lapangan, petani biasanya merendam daun mimba yang telah ditumbuk, lalu menyemprotkan larutan tersebut ke area pangkal dan pucuk tanaman. Menurut Dr. Rudi, metode ini relatif aman dan dapat diaplikasikan secara berkala. 

“Mimba tidak membunuh serangga secara instan, tetapi menekan siklus hidupnya sehingga populasi menurun secara bertahap,” jelasnya.

Pemanfaatan feromon juga menjadi bagian dari pengendalian alami yang semakin populer. Feromon sintetis yang meniru aroma betina kumbang digunakan untuk menarik serangga jantan masuk ke dalam perangkap. 

Meski bukan bahan alami murni, metode ini dianggap ramah lingkungan karena tidak meninggalkan residu berbahaya. Perangkap feromon ditempatkan di beberapa titik strategis kebun, terutama di area yang sebelumnya teridentifikasi sebagai pusat serangan. Hasilnya, populasi kumbang dewasa dapat ditekan sebelum sempat merusak tanaman.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: