Mengenal Perang Padri di Sumatra Barat

Senin 01-06-2026,09:20 WIB
Reporter : Tim Redaksi RM
Editor : Tim Redaksi RM

 

 

RADARMUKOMUKO.COM - Perang Padri merupakan perlawanan yang sangat menyita biaya dan tenaga yang sangat besar bagi rakyat Sumatra Barat dan juga Belanda.

Saat itu, rakyat Sumatra Barat merupakan persatuan antara kaum padri atau ulama dengan kaum adat ditambah lagi datangnya bantuan dari Aceh yang membuat Belanda kesulitan.

Nah, Belanda kemudian menerapkan sistem pertahanan benteng stelsel.

Belanda menjadikan benteng Fort de Kock di Bukit Tinggi dan Benteng Fort van der Cappelen menjadi benteng pertahanannya.

BACA JUGA:Mengenang Perang Jagaraga di Bali Tahun 1841

BACA JUGA:Sejarah Perang Aceh, Pasukan Jihad Membuat Belanda Kelabakan

Penerapan sistem pertahanan benteng stelsel oleh Belanda ternyata berhasil menuai kemenangan yang ditandai dengan jatuhnya benteng pertahanan terakhir Padri di Bonjol tahun 1837.

Kemudian Tuanku Imam Bonjol ditangkap dan diasingkan ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Priangan, Ambon, dan Manado.

Perang Padri pun dianggap selesai dengan kemenangan jatuh ke pihak Kolonial Belanda, sementara Tuanku Tambusai bersama sisa-sisa pengikutnya terpaksa pindah ke Negeri Sembilan di Semenanjung Malaya.

Kerajaan Pagaruyung akhirnya menjadi bagian Pax Netherlandica di bawah kendali Hindia Belanda.

Penyebab kegagalan Perang Padri adalah kurangnya senjata, senjata yang kurang modern, dan kurangnya pasukan.*

 

Kategori :