Suka Jengkol dan Klaim Khasiatnya terhadap Kanker Menurut Pandangan Pakar

Senin 23-03-2026,05:56 WIB
Reporter : Tim Redaksi RM
Editor : Tim Redaksi RM

RADARMUKOMUKO.COM -  Aroma tajam jengkol sering kali memicu perdebatan, tetapi bagi sebagian orang, justru di situlah letak kenikmatannya. Di berbagai sudut kota hingga desa di Indonesia, jengkol hadir sebagai sajian yang akrab, diolah menjadi semur, sambal, hingga campuran lauk sederhana yang menggugah selera. Namun, di balik popularitasnya, muncul anggapan yang beredar luas di masyarakat bahwa jengkol memiliki khasiat untuk mengobati kanker. Klaim ini mengundang perhatian, sekaligus memunculkan pertanyaan serius di kalangan tenaga medis dan peneliti.

Fenomena ini semakin mencuat dalam beberapa tahun terakhir, seiring maraknya informasi kesehatan di media sosial. Banyak orang membagikan pengalaman pribadi atau cerita turun-temurun yang menyebutkan bahwa konsumsi jengkol dapat membantu melawan penyakit berat, termasuk kanker. Di sejumlah komunitas, keyakinan ini bahkan menjadi bagian dari praktik pengobatan alternatif yang diyakini secara turun-temurun.

Menurut dr. Reza Pratama, seorang dokter spesialis onkologi di Jakarta, klaim tersebut perlu dilihat dengan hati-hati. Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada bukti ilmiah kuat yang menyatakan bahwa jengkol dapat menyembuhkan kanker.

“Jengkol memang mengandung beberapa senyawa aktif, seperti antioksidan, tetapi itu tidak serta-merta berarti bisa menjadi obat kanker. Pengobatan kanker membutuhkan pendekatan medis yang kompleks dan teruji,” ujarnya dalam sebuah diskusi kesehatan.

Secara ilmiah, jengkol diketahui mengandung berbagai zat seperti flavonoid dan senyawa fenolik yang memiliki sifat antioksidan. Antioksidan berperan dalam menangkal radikal bebas yang dapat merusak sel tubuh.

Dalam konteks ini, konsumsi makanan yang kaya antioksidan memang dianjurkan sebagai bagian dari pola hidup sehat. Namun, menjadikan satu jenis makanan sebagai “obat utama” untuk penyakit serius seperti kanker adalah penyederhanaan yang berisiko.

Di Yogyakarta, ahli gizi klinis Nur Aisyah menambahkan bahwa persepsi masyarakat sering kali terbentuk dari pengalaman subjektif yang tidak didukung data ilmiah.

“Ada kemungkinan seseorang merasa kondisinya membaik setelah mengonsumsi jengkol, tetapi itu belum tentu karena jengkol itu sendiri. Bisa jadi karena faktor lain, termasuk pengobatan medis yang dijalani secara bersamaan,” katanya.

Selain itu, konsumsi jengkol juga tidak lepas dari risiko kesehatan. Dalam jumlah berlebihan, jengkol dapat menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai jengkolan, yaitu gangguan pada ginjal akibat kristal asam jengkolat yang sulit larut. Kondisi ini dapat menimbulkan nyeri hebat hingga gangguan buang air kecil. Fakta ini menunjukkan bahwa konsumsi jengkol tetap perlu dibatasi dan tidak bisa dianggap sepenuhnya aman.

Di tengah berkembangnya berbagai klaim kesehatan, para pakar menekankan pentingnya literasi informasi.

Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi, terutama yang berkaitan dengan penyakit serius seperti kanker. Pengobatan kanker memerlukan diagnosis yang tepat, terapi yang terukur, serta pengawasan tenaga medis profesional.

Dr. Reza Pratama kembali menegaskan bahwa pendekatan terbaik dalam mencegah kanker adalah dengan menjaga gaya hidup sehat secara menyeluruh. “Pola makan seimbang, olahraga teratur, menghindari rokok, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala jauh lebih efektif dibandingkan mengandalkan satu jenis makanan,” tuturnya.

Ini Alasannya Mobil Berpenggerak Roda Belakang Masih Banyak Diminati

Fenomena ini terlihat jelas di pasar otomotif Indonesia maupun global dalam beberapa tahun terakhir. Meski mobil berpenggerak roda depan (FWD) dan all-wheel drive (AWD) semakin mendominasi karena efisiensi dan kemudahan penggunaan, kendaraan dengan penggerak roda belakang tetap memiliki segmen penggemar yang setia. Dari sedan klasik hingga mobil sport modern, RWD terus hadir sebagai pilihan yang tidak tergantikan.

Menurut pengamat otomotif dari Jakarta, Arief Nugroho, daya tarik utama mobil RWD terletak pada distribusi tenaga yang lebih seimbang. “Pada mobil penggerak roda belakang, roda depan fokus pada kemudi, sementara roda belakang bertugas mendorong kendaraan. Ini menciptakan keseimbangan yang lebih baik, terutama saat akselerasi dan manuver,” ujarnya dalam sebuah forum otomotif nasional.

Tags :
Kategori :

Terkait