DPRD MUKOMUKO, HUT 23 MUKOMUKO

Sejarah Nasi Kucing di Jogja: Hidangan Sederhana yang Menyimpan Jejak Budaya

Sejarah Nasi Kucing di Jogja: Hidangan Sederhana yang Menyimpan Jejak Budaya

Sejarah Nasi Kucing di Jogja: Hidangan Sederhana yang Menyimpan Jejak Budaya--

RADARMUKOMUKO.COM -  Nasi kucing dikenal sebagai porsi nasi kecil yang disajikan dengan lauk sederhana seperti sambal, ikan teri, atau tempe. Hidangan ini lazim ditemukan di angkringan—gerobak kaki lima yang menjajakan aneka makanan dan minuman di malam hari.

Di Yogyakarta, keberadaan nasi kucing tidak bisa dilepaskan dari tradisi angkringan yang telah berkembang sejak pertengahan abad ke-20, terutama di kawasan Jawa Tengah dan DIY.

Menurut sejarawan kuliner Jawa, Bambang Widodo, asal-usul nasi kucing dapat ditelusuri dari kebiasaan masyarakat pedesaan yang membawa bekal nasi dalam porsi kecil untuk bertahan sepanjang hari.

 “Istilah ‘kucing’ sendiri merujuk pada ukuran porsinya yang kecil, seperti makanan untuk kucing. Namun, di balik itu ada filosofi berbagi dan kesederhanaan,” ujarnya dalam sebuah wawancara budaya di Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Tradisi ini mulai berkembang pesat ketika urbanisasi meningkat di Yogyakarta pada era 1960-an hingga 1970-an. Para perantau, buruh, hingga mahasiswa membutuhkan makanan yang murah, cepat, dan mengenyangkan.

Angkringan kemudian muncul sebagai solusi, menawarkan nasi kucing sebagai menu utama yang bisa dijangkau semua kalangan. Dari sinilah nasi kucing perlahan mengakar dalam kehidupan kota.

Di kawasan Tugu hingga Malioboro, angkringan menjadi titik temu lintas generasi. Pada malam hari, mahasiswa duduk berdampingan dengan pekerja informal, wisatawan, hingga seniman jalanan.

Nasi kucing menjadi pengikat suasana, menghadirkan kehangatan dalam kesederhanaan. Tidak ada jarak sosial di sana semua setara di hadapan sepiring nasi kecil yang dibungkus daun atau kertas.

Sutrisno, seorang penjual angkringan yang telah berjualan selama lebih dari tiga dekade di kawasan Sleman, menuturkan bahwa nasi kucing bukan hanya soal makanan, tetapi juga tentang kebersamaan.

“Dulu saya mulai jualan dari dorong gerobak keliling. Pembeli saya macam-macam, dari tukang becak sampai mahasiswa. Sampai sekarang, yang dicari bukan cuma nasi, tapi suasana,” katanya sambil tersenyum.

Perjalanan nasi kucing tidak berhenti pada fungsi ekonominya. Seiring waktu, hidangan ini juga mengalami adaptasi. Variasi lauk mulai berkembang, dari sekadar sambal teri menjadi aneka pilihan seperti ayam suwir, sate usus, hingga telur puyuh. Meski demikian, esensi kesederhanaannya tetap dipertahankan.

Harga yang terjangkau tetap menjadi ciri utama, menjaga aksesibilitas bagi semua lapisan masyarakat.

Budayawan Yogyakarta, Sri Lestari, melihat nasi kucing sebagai representasi nilai-nilai Jawa yang menjunjung kesederhanaan dan kebersamaan.

 “Dalam budaya Jawa, makan bukan hanya aktivitas fisik, tetapi juga sosial. Nasi kucing mencerminkan semangat ‘nrimo’ dan kebersamaan tanpa memandang status,” jelasnya dalam diskusi budaya di Universitas Gadjah Mada.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: