Penyebab Sakit Jantung karena Pola Makanan yang Tak Disadari

Senin 23-03-2026,05:55 WIB
Reporter : Tim Redaksi RM
Editor : Tim Redaksi RM

RADARMUKOMUKO.COM -  Fenomena ini terlihat jelas di berbagai kota besar di Indonesia dalam satu dekade terakhir. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan kasus penyakit jantung koroner yang signifikan, terutama di kalangan masyarakat urban. 

Pola makan tinggi lemak jenuh, gula, dan garam menjadi salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap kondisi ini. Tanpa disadari, kebiasaan sehari-hari yang tampak sepele dapat menjadi pemicu gangguan serius pada sistem kardiovaskular.

Dokter spesialis jantung dari Rumah Sakit Harapan Kita, dr. Andi Prasetyo, menjelaskan bahwa makanan berlemak tinggi seperti gorengan dan daging olahan memiliki dampak langsung terhadap kesehatan pembuluh darah. 

“Lemak jenuh dan lemak trans dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat atau LDL dalam darah. Jika dibiarkan, ini akan menumpuk di dinding arteri dan menyebabkan penyempitan yang berbahaya,” ujarnya dalam sebuah seminar kesehatan di Jakarta.

Selain lemak, konsumsi gula berlebih juga memainkan peran penting dalam meningkatkan risiko penyakit jantung. Minuman manis, kue, dan makanan olahan yang tinggi gula dapat memicu obesitas dan resistensi insulin, yang pada akhirnya memperburuk kondisi jantung. Dalam banyak kasus, masyarakat tidak menyadari bahwa asupan gula harian mereka telah melampaui batas yang dianjurkan.

Di Yogyakarta, seorang ahli gizi klinis, Nur Aisyah, menuturkan bahwa perubahan gaya hidup menjadi faktor yang sulit dihindari. “Masyarakat sekarang cenderung memilih makanan instan karena praktis. Namun, di balik itu, kandungan garam, gula, dan lemaknya sering kali tidak terkontrol,” katanya saat ditemui dalam kegiatan edukasi gizi masyarakat.

Garam yang berlebihan juga menjadi ancaman tersendiri. Konsumsi natrium yang tinggi dapat menyebabkan tekanan darah meningkat, yang merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit jantung. Makanan seperti mi instan, makanan kalengan, dan camilan kemasan sering kali mengandung kadar garam yang jauh lebih tinggi dari kebutuhan harian tubuh.

Yang membuat kondisi ini semakin kompleks adalah cara penyakit jantung berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Banyak orang baru menyadari adanya masalah ketika kondisi sudah cukup parah. Dalam situasi seperti ini, pola makan yang buruk telah berlangsung bertahun-tahun, membentuk kerusakan yang tidak mudah diperbaiki.

Namun demikian, perubahan tetap mungkin dilakukan. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pola makan sehat mulai meningkat, seiring dengan berbagai kampanye kesehatan yang digalakkan oleh pemerintah dan lembaga medis. Konsumsi makanan segar, seperti buah, sayur, ikan, dan biji-bijian, mulai kembali diperkenalkan sebagai bagian dari gaya hidup yang lebih sehat.

Menurut dr. Andi Prasetyo, langkah kecil dapat memberikan dampak besar jika dilakukan secara konsisten. “Mengurangi gorengan, membatasi gula, dan memperhatikan asupan garam adalah langkah awal yang sederhana, tetapi sangat efektif dalam menjaga kesehatan jantung,” tuturnya.

Selain itu, penting juga untuk memahami cara pengolahan makanan. Menggoreng dengan minyak berulang kali, misalnya, dapat menghasilkan senyawa berbahaya yang meningkatkan risiko penyakit jantung. Mengganti metode memasak dengan merebus, mengukus, atau memanggang dapat menjadi alternatif yang lebih sehat tanpa mengorbankan rasa.

 

Tags :
Kategori :

Terkait