Sholat Idul Fitri Wajib Jamaahnya Mesti 40 Orang Ini Penjelasannya

Kamis 19-03-2026,15:13 WIB
Reporter : Tim Redaksi RM
Editor : Tim Redaksi RM

RADARMUKOMUKO.COM - Pagi Idulfitri selalu datang dengan suasana yang khusyuk sekaligus meriah. Hamparan sajadah terbentang di lapangan terbuka, takbir bergema di antara wajah-wajah yang penuh harap, dan umat Muslim berkumpul dalam satu barisan panjang untuk menunaikan salat yang menjadi penutup Ramadan. 

Di tengah kebersamaan itu, muncul sebuah anggapan yang kerap beredar di masyarakat bahwa salat Idulfitri harus diikuti oleh minimal 40 orang agar sah. Keyakinan ini tidak jarang menimbulkan kebingungan, terutama di lingkungan yang jumlah jamaahnya terbatas.

Di sebuah desa kecil di Sumatera Selatan, misalnya, perbincangan mengenai jumlah minimal jamaah sempat mencuat menjelang hari raya. Sebagian warga merasa ragu untuk menggelar salat Id karena khawatir jumlah peserta tidak mencapai 40 orang. “Kami takut salatnya tidak sah kalau kurang dari itu,” ujar Hasan, seorang tokoh masyarakat setempat, saat ditemui beberapa hari sebelum Idulfitri.

Pandangan tersebut sebenarnya memiliki akar dalam tradisi fikih tertentu, namun tidak bersifat mutlak. Menurut Ustaz Abdul Rahman, pengajar ilmu fikih di sebuah pesantren di Palembang, anggapan tentang angka 40 lebih sering dikaitkan dengan pelaksanaan salat Jumat dalam mazhab Syafi’i, bukan salat Idulfitri. 

“Untuk salat Id, para ulama memiliki perbedaan pendapat. Tidak ada kesepakatan yang menetapkan harus 40 orang,” jelasnya dalam sebuah kajian terbuka.

Dalam praktiknya, salat Idulfitri memang dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah, sebagai simbol persatuan umat. Namun, jumlah jamaah tidak menjadi syarat sah yang kaku seperti yang sering dipahami. 

Dalam mazhab Syafi’i, misalnya, salat Id dapat dilaksanakan dengan jumlah jamaah yang lebih sedikit, bahkan dalam kondisi tertentu bisa dilakukan sendiri. Pendapat ini juga didukung oleh mazhab lain yang memberikan fleksibilitas sesuai dengan kondisi umat.

Penjelasan serupa disampaikan oleh Dr. Ahmad Fauzi, dosen studi Islam di salah satu perguruan tinggi negeri. Ia menegaskan bahwa yang terpenting dalam salat Id adalah pelaksanaannya pada waktu yang tepat dan sesuai dengan tata cara yang diajarkan. 

“Esensi salat Id adalah syiar dan kebersamaan. Jumlah jamaah memang idealnya banyak, tetapi bukan syarat sah yang harus dipenuhi dengan angka tertentu,” katanya.

Sejarah pelaksanaan salat Id pada masa Nabi Muhammad SAW juga menunjukkan adanya kelonggaran dalam hal jumlah jamaah. Dalam beberapa riwayat, Nabi melaksanakan salat Id di lapangan terbuka bersama para sahabat yang hadir, tanpa penekanan pada jumlah minimal tertentu. Hal ini menjadi dasar bagi banyak ulama untuk menyimpulkan bahwa fleksibilitas adalah bagian dari ajaran tersebut.

Meski demikian, munculnya anggapan tentang angka 40 tidak lepas dari upaya sebagian ulama dalam menjaga kekhusyukan dan kekuatan syiar Islam. Dalam konteks tertentu, jumlah jamaah yang besar memang memberikan dampak sosial dan spiritual yang lebih kuat. 

Namun, ketika angka tersebut dijadikan sebagai syarat mutlak, pemahaman ini berpotensi membatasi pelaksanaan ibadah, terutama di daerah dengan jumlah Muslim yang sedikit.

Di era modern, tantangan seperti ini semakin terasa di komunitas Muslim minoritas atau wilayah terpencil. Dalam situasi seperti itu, para ulama cenderung memberikan kemudahan agar ibadah tetap dapat dilaksanakan tanpa beban yang berlebihan. 

“Islam tidak menghendaki kesulitan. Jika ada lima atau sepuluh orang yang ingin salat Id bersama, itu sudah cukup untuk melaksanakan jamaah,” tambah Ustaz Abdul Rahman.*

Tags :
Kategori :

Terkait