RADARMUKOMUKO.COM - Fenomena hati yang tertutup dari kebaikan bukanlah sekadar ungkapan moral. Dalam Al-Qur’an, Allah beberapa kali menggambarkan kondisi tersebut sebagai keadaan ketika hati manusia menjadi keras, bahkan tidak lagi mampu menerima nasihat.
Surah Al-Baqarah ayat 7 menyebutkan bahwa ada manusia yang hatinya telah tertutup sehingga mereka tidak lagi mampu melihat kebenaran dengan jernih. Ayat ini sering menjadi rujukan para ulama untuk menjelaskan bagaimana kondisi batin seseorang dapat berubah akibat kebiasaan dan pilihan hidupnya.
Ulama tafsir Indonesia, Prof. M. Quraish Shihab, menjelaskan bahwa hati yang tertutup bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil dari proses panjang ketika seseorang terus-menerus mengabaikan kebenaran.
“Ketika manusia berkali-kali menolak kebaikan dan tetap memilih keburukan, maka secara perlahan hatinya akan kehilangan sensitivitas terhadap kebenaran,” ujar Quraish Shihab dalam salah satu kajian tafsirnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, tanda-tanda hati yang mulai tertutup dapat terlihat dari sikap yang semakin jauh dari nilai-nilai kebaikan. Seseorang mungkin menjadi sulit menerima nasihat, mudah meremehkan perbuatan baik, atau bahkan merasa nyaman ketika melakukan kesalahan. Kondisi ini sering kali terjadi tanpa disadari, karena perubahan batin berlangsung perlahan seiring dengan kebiasaan hidup.
Menurut Ustaz Adi Hidayat, seorang pendakwah yang dikenal luas melalui ceramah-ceramahnya, hati manusia pada dasarnya diciptakan dalam keadaan bersih. Namun berbagai perbuatan buruk dapat menutupi kejernihannya.
Ia mengutip sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa setiap kali manusia melakukan dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia segera bertobat, titik itu akan hilang. Namun jika dosa terus dilakukan, titik-titik itu akan semakin banyak hingga menutupi seluruh hati.
“Dosa yang dibiarkan tanpa penyesalan dapat membuat hati menjadi keras. Ketika hati sudah keras, nasihat yang paling lembut sekalipun akan sulit menembusnya,” kata Ustaz Adi Hidayat dalam sebuah ceramah di Jakarta beberapa tahun lalu.
Kondisi hati yang tertutup dari kebaikan juga sering berkaitan dengan sikap kesombongan. Dalam Islam, kesombongan dianggap sebagai penyakit hati yang sangat berbahaya karena membuat seseorang merasa tidak membutuhkan petunjuk.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa kesombongan dapat membuat manusia menolak kebenaran hanya karena datang dari orang lain.
Al-Ghazali menggambarkan bahwa hati yang tertutup ibarat cermin yang dipenuhi debu. Semakin banyak debu yang menempel, semakin sulit cermin itu memantulkan cahaya. Begitu pula dengan hati manusia. Jika terus dipenuhi oleh kesombongan, iri hati, dan kebiasaan buruk, maka cahaya kebenaran tidak lagi mampu dipantulkan oleh batin seseorang.
Ulama Mesir, Syekh Yusuf Al-Qaradawi, pernah menegaskan bahwa hati manusia memiliki kemampuan untuk kembali hidup setelah mengalami kekerasan batin. “Selama manusia masih memiliki kesadaran untuk kembali kepada Allah, maka pintu perbaikan selalu terbuka,” tulis Al-Qaradawi dalam bukunya tentang tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa.