Dampak Anak Sering Bermain Ponsel Menurut Psikolog

Dampak Anak Sering Bermain Ponsel Menurut Psikolog

6 Cara Mencegah Anak Kecanduan Bermain HP, Cara Nomor 6 Paling Berat-Amris-radarmukomuko.com

Cahaya layar kecil itu memantul di wajah seorang anak yang duduk diam di sudut ruang keluarga. Jemarinya lincah menggeser layar, matanya terpaku, sementara dunia di sekelilingnya seolah memudar. 

Di banyak rumah hari ini, pemandangan semacam itu bukan lagi hal yang asing. Ponsel pintar telah menjadi teman yang setia, namun sekaligus menghadirkan kekhawatiran baru tentang bagaimana ia membentuk tumbuh kembang anak.

Fenomena anak yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar menjadi perhatian para orang tua, pendidik, dan terutama psikolog. 

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan gawai pada usia dini meningkat tajam, seiring dengan kemudahan akses teknologi dan kebutuhan hiburan yang praktis. Di kota-kota besar hingga daerah, ponsel kini bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga sarana bermain, belajar, bahkan pelarian dari kebosanan.

Psikolog anak, dr. Maya Pradipta, menjelaskan bahwa penggunaan ponsel yang berlebihan dapat memengaruhi perkembangan kognitif dan emosional anak. “Otak anak masih dalam tahap berkembang. 

Paparan layar yang terlalu lama dapat mengganggu kemampuan mereka dalam berkonsentrasi dan mengolah informasi secara mendalam,” ujarnya dalam sebuah diskusi di Jakarta. Menurutnya, anak yang terbiasa dengan stimulasi cepat dari layar cenderung mengalami kesulitan saat harus menghadapi aktivitas yang membutuhkan fokus lebih lama, seperti membaca atau belajar di kelas.

Selain itu, interaksi sosial anak juga berpotensi terganggu. Masa kanak-kanak merupakan periode penting untuk belajar berkomunikasi, memahami emosi, dan membangun hubungan dengan orang lain. 

Ketika waktu lebih banyak dihabiskan dengan ponsel, kesempatan untuk berinteraksi secara langsung menjadi berkurang. “Anak bisa kehilangan kemampuan membaca ekspresi wajah atau memahami perasaan orang lain jika interaksi tatap muka terlalu minim,” tambah dr. Maya.

Di sisi lain, dampak emosional juga menjadi sorotan. Anak yang terlalu sering bermain ponsel cenderung lebih mudah mengalami perubahan suasana hati. Ketergantungan terhadap gawai dapat memicu rasa gelisah atau marah ketika akses dibatasi. 

Hal ini terjadi karena penggunaan ponsel, terutama untuk permainan atau media sosial, dapat memicu pelepasan dopamin di otak—zat kimia yang berkaitan dengan rasa senang. Ketika stimulasi tersebut dihentikan, anak bisa merasa kehilangan dan menunjukkan reaksi emosional yang berlebihan.

Dalam praktik sehari-hari, para psikolog juga menemukan adanya gangguan pola tidur pada anak yang sering menggunakan ponsel, terutama di malam hari. Cahaya biru dari layar diketahui dapat menghambat produksi melatonin, hormon yang mengatur siklus tidur. Akibatnya, anak menjadi sulit tidur atau mengalami kualitas tidur yang buruk. Kondisi ini berdampak pada kesehatan fisik dan kemampuan belajar mereka keesokan harinya.

Namun, penggunaan ponsel tidak selalu membawa dampak negatif jika dikelola dengan bijak. Menurut dr. Maya, kunci utamanya terletak pada pendampingan orang tua. “Ponsel bisa menjadi alat belajar yang efektif jika digunakan dengan tepat. 

Yang penting adalah durasi, konten, dan keterlibatan orang tua,” jelasnya. Ia menyarankan agar orang tua menetapkan batas waktu penggunaan serta memilihkan aplikasi atau konten yang sesuai dengan usia anak.

Pendekatan yang seimbang juga perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Anak tetap membutuhkan aktivitas fisik, permainan di luar ruangan, serta interaksi sosial yang nyata. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: