RADARMUKOMUKO.COM - Malam-malam terakhir bulan Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda bagi umat Islam. Masjid-masjid tampak lebih hidup, lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar semakin khusyuk, dan doa-doa dipanjatkan dengan harapan yang lebih dalam. Di balik kesunyian malam itulah, umat Islam menanti satu momen yang diyakini memiliki kemuliaan luar biasa: malam Lailatul Qadar.
Malam Lailatul Qadar dikenal sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Keutamaan ini disebutkan secara jelas dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surah Al-Qadr. Para ulama menjelaskan bahwa malam tersebut merupakan waktu ketika rahmat dan ampunan Allah SWT terbuka sangat luas bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh beribadah.
Karena itu, umat Islam di berbagai belahan dunia berusaha menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan dengan salat malam, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan memperbanyak doa.
Di Indonesia, tradisi menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan menjadi bagian penting dari kehidupan keagamaan masyarakat. Masjid-masjid di berbagai kota dan desa tetap ramai hingga larut malam. Sebagian umat memilih melakukan i’tikaf, yaitu berdiam diri di masjid untuk fokus beribadah, sementara yang lain menghidupkan malam dengan tadarus dan zikir bersama.
Ustaz Abdul Somad dalam salah satu ceramahnya menjelaskan bahwa orang yang berjumpa dengan malam Lailatul Qadar akan memperoleh keutamaan yang sangat besar. Menurutnya, pahala ibadah pada malam tersebut setara dengan ibadah selama lebih dari delapan puluh tahun.
“Allah menyebutkan bahwa Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan. Artinya satu malam ibadah pada malam itu nilainya melebihi ibadah seumur hidup manusia pada umumnya,” ujar Ustaz Abdul Somad dalam sebuah kajian Ramadan yang disiarkan melalui berbagai platform dakwah.
Kelebihan pertama yang diperoleh bagi mereka yang berjumpa dengan malam Lailatul Qadar adalah ampunan dosa. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa siapa saja yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
Bagi banyak orang, keutamaan ini menjadi motivasi kuat untuk memperbanyak ibadah pada malam-malam terakhir Ramadan. Momen tersebut dianggap sebagai kesempatan memperbaiki diri sekaligus membuka lembaran kehidupan yang lebih baik setelah Ramadan berakhir.
Kelebihan berikutnya adalah pahala ibadah yang berlipat ganda. Pada malam Lailatul Qadar, setiap ibadah yang dilakukan—baik salat, membaca Al-Qur’an, sedekah, maupun doa—dilipatgandakan nilainya oleh Allah SWT. Hal ini membuat satu malam ibadah memiliki nilai yang sangat besar dalam kehidupan seorang muslim.
Menurut Guru Besar Ilmu Tafsir Universitas Al-Azhar Kairo, Prof. Ahmad Karimah, malam Lailatul Qadar merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW. Ia menjelaskan bahwa usia umat Islam secara umum lebih pendek dibandingkan umat terdahulu, sehingga Allah memberikan malam istimewa agar pahala ibadah mereka tetap besar.
“Melalui Lailatul Qadar, Allah memberikan peluang kepada umat Nabi Muhammad untuk memperoleh pahala yang sangat besar dalam waktu yang singkat. Ini adalah rahmat yang luar biasa,” ungkapnya dalam sebuah diskusi keislaman yang dikutip dari berbagai literatur dakwah.
Selain pahala yang melimpah, malam Lailatul Qadar juga diyakini sebagai malam turunnya ketenangan dan keberkahan. Dalam Surah Al-Qadr dijelaskan bahwa pada malam tersebut para malaikat turun ke bumi dengan membawa berbagai ketetapan Allah hingga terbit fajar.
Suasana spiritual yang kuat sering dirasakan oleh mereka yang menghidupkan malam itu dengan penuh kesungguhan. Banyak orang menggambarkan malam tersebut terasa lebih tenang, hati menjadi lebih damai, dan doa terasa lebih khusyuk.
Kelebihan lainnya adalah dikabulkannya doa-doa yang dipanjatkan dengan tulus. Rasulullah SAW bahkan mengajarkan doa khusus yang dianjurkan untuk dibaca ketika seseorang berharap berjumpa dengan Lailatul Qadar.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang doa yang sebaiknya dibaca jika ia bertemu dengan malam Lailatul Qadar.