Ini Perbedaan Sakit Batu Empedu dengan Sakit Maag

Rabu 04-03-2026,15:16 WIB
Reporter : Tim Redaksi RM
Editor : Tim Redaksi RM

RADARMUKOMUKO.COM -  Rasa nyeri di perut sering kali datang tanpa aba-aba. Ia bisa muncul sebagai perih yang menggerogoti ulu hati, atau sebagai rasa tajam yang menusuk di sisi kanan atas perut hingga menjalar ke punggung. 

Banyak orang mengira semua keluhan itu sekadar “maag” yang kambuh. Padahal, di balik gejala yang tampak serupa, bisa tersembunyi dua kondisi berbeda: batu empedu dan radang lambung. Kesalahpahaman ini tidak jarang membuat penanganan terlambat, bahkan berisiko memperburuk keadaan.

Di berbagai fasilitas layanan kesehatan di Indonesia, keluhan nyeri perut bagian atas menjadi salah satu alasan terbanyak pasien datang berobat. Dokter spesialis penyakit dalam di sebuah rumah sakit di Jakarta, dr. Andika Pratama, Sp.PD, menjelaskan bahwa radang lambung atau gastritis dan batu empedu memang kerap menimbulkan gejala yang mirip pada awalnya. 

“Pasien sering sulit membedakan. Sama-sama nyeri di perut atas, sama-sama bisa disertai mual. Tetapi sumber masalahnya berbeda, sehingga pendekatan terapinya pun tidak sama,” ujarnya dalam wawancara, pekan ini.

Radang lambung terjadi ketika lapisan mukosa lambung mengalami peradangan. Penyebabnya beragam, mulai dari infeksi bakteri Helicobacter pylori, konsumsi obat antiinflamasi nonsteroid dalam jangka panjang, pola makan yang tidak teratur, hingga stres berat. 

Kondisi ini bisa muncul perlahan sebagai gastritis kronis atau datang mendadak sebagai gastritis akut. Rasa perih atau panas di ulu hati menjadi keluhan paling khas, sering kali memburuk saat perut kosong atau setelah mengonsumsi makanan pedas dan asam.

Berbeda dengan itu, batu empedu terbentuk ketika cairan empedu yang diproduksi hati mengendap dan mengeras di dalam kantong empedu. Endapan tersebut bisa berupa kolesterol atau pigmen bilirubin. 

Batu yang menyumbat saluran empedu akan memicu nyeri hebat yang dikenal sebagai kolik bilier. Nyeri biasanya terlokalisasi di perut kanan atas, muncul mendadak setelah makan berlemak, dan dapat menjalar ke bahu kanan atau punggung. Serangan dapat berlangsung selama beberapa jam dan mereda perlahan.

Menurut dr. Andika, pola nyeri menjadi pembeda penting. “Pada radang lambung, nyeri cenderung terasa seperti terbakar atau perih di tengah perut atas. Sementara pada batu empedu, nyerinya lebih tajam, menetap, dan sering membuat pasien tidak bisa menemukan posisi nyaman,” katanya. 

Selain itu, batu empedu dapat disertai demam dan kulit menguning bila sudah terjadi infeksi atau sumbatan berat, sesuatu yang jarang ditemukan pada gastritis biasa.

Perbedaan juga terlihat dari faktor risiko. Radang lambung kerap menyerang mereka yang memiliki pola makan tidak teratur, gemar kopi atau makanan pedas, serta berada dalam tekanan psikologis berkepanjangan. 

Sementara batu empedu lebih banyak ditemukan pada perempuan, terutama yang berusia di atas 40 tahun, memiliki berat badan berlebih, atau memiliki riwayat keluarga dengan kondisi serupa. Kehamilan dan penggunaan kontrasepsi hormonal juga meningkatkan risiko terbentuknya batu empedu.

Di sebuah klinik di Bandung, seorang pasien bernama Rina, 45 tahun, sempat mengira nyeri yang ia rasakan hanyalah maag kambuhan. Selama berbulan-bulan ia mengandalkan obat antasida yang dibeli bebas. 

Namun suatu malam, nyeri hebat membuatnya harus dilarikan ke instalasi gawat darurat. Hasil pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan adanya batu empedu berukuran hampir dua sentimeter. “Saya kira hanya masuk angin atau maag. Ternyata batu empedu dan harus operasi,” tuturnya setelah menjalani prosedur pengangkatan kantong empedu secara laparoskopi.

Cara memastikan diagnosis memang memerlukan pemeriksaan penunjang. Untuk radang lambung, dokter biasanya melakukan evaluasi klinis dan bila perlu endoskopi untuk melihat langsung kondisi lambung. 

Tags :
Kategori :

Terkait