Direktur Eksekutif sebuah lembaga riset ekonomi di Jakarta, Mira Anggraini, melihat dampak konflik terhadap CPO sebagai fenomena yang kompleks.
“Harga CPO tidak hanya dipengaruhi perang, tetapi juga produksi kedelai di Amerika Latin, kebijakan biodiesel domestik, dan nilai tukar rupiah. Konflik Iran, Israel, dan Amerika hanya salah satu variabel yang memperkuat volatilitas,” jelasnya dalam diskusi publik pekan ini.
Ia menambahkan bahwa dalam situasi global yang tidak menentu, pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekspor dan kebutuhan dalam negeri.
Program biodiesel B35 yang menyerap CPO untuk energi domestik menjadi bantalan penting ketika pasar ekspor bergejolak. Dengan konsumsi dalam negeri yang kuat, Indonesia memiliki ruang lebih besar untuk menstabilkan harga.
Di tingkat global, lembaga seperti World Bank dan International Monetary Fund telah memperingatkan bahwa konflik geopolitik berpotensi memicu lonjakan harga komoditas pangan dan energi.
Ketika harga minyak mentah naik, biaya produksi dan distribusi pangan ikut terdorong. Minyak sawit sebagai bahan baku utama berbagai produk makanan dan energi alternatif menjadi bagian dari rantai efek tersebut.
Meski demikian, sebagian pelaku industri memilih bersikap hati-hati. Ketua asosiasi pengusaha sawit nasional dalam sebuah pernyataan tertulis menyebutkan bahwa lonjakan harga tidak selalu identik dengan keuntungan besar. Fluktuasi tajam justru menyulitkan perencanaan bisnis. “Kami berharap stabilitas global segera pulih agar pasar kembali rasional,” tulisnya.