RADARMUKOMUKO.COM - Warna-warna lembut dan potongan kain yang jatuh ringan mendominasi etalase toko busana anak di awal Ramadan tahun ini. Dari gamis mungil beraksen renda hingga set koko lengkap dengan peci kecil, deretan pakaian bernuansa Muslim tampak tersusun rapi, seolah menyambut langkah-langkah kecil yang akan memakainya saat salat Idulfitri nanti.
Di sejumlah pusat perbelanjaan dan toko busana di Mukomuko, Bengkulu, geliat penjualan pakaian anak sudah terasa bahkan sebelum pertengahan bulan puasa tiba.
Di antara banyak pilihan yang ditawarkan, ada tiga jenis pakaian anak bernuansa Muslim yang tercatat paling banyak terjual. Pertama adalah gamis anak perempuan dengan desain sederhana namun elegan.
Kedua, setelan koko anak laki-laki yang dipadukan dengan celana panjang atau sarung instan. Ketiga, tunik dan set hijab praktis untuk anak perempuan usia sekolah dasar. Ketiganya mendominasi transaksi, baik di toko fisik maupun melalui pemesanan daring.
Pemilik Toko Busana Al-Fattah di kawasan Pasar Lama Mukomuko, Suryani (38), mengatakan bahwa gamis anak perempuan selalu menjadi primadona setiap Ramadan.
“Modelnya sekarang lebih variatif, tapi orang tua tetap memilih yang simpel dan nyaman. Bahan katun premium atau linen ringan paling dicari karena anak-anak tetap bisa bergerak bebas,” ujarnya saat ditemui pada pekan pertama Ramadan. Dalam sehari, ia bisa menjual lebih dari 30 potong gamis anak dengan berbagai ukuran.
Menurut Suryani, orang tua cenderung membeli pakaian sejak awal Ramadan untuk menghindari kehabisan stok menjelang Lebaran. Selain itu, tren berfoto keluarga saat Idulfitri turut memengaruhi pilihan model dan warna.
Tahun ini, nuansa sage green, dusty pink, dan putih tulang menjadi favorit. “Banyak keluarga ingin tampil serasi. Jadi gamis anak disesuaikan dengan warna busana orang tuanya,” katanya.
Setelan koko anak laki-laki menempati posisi kedua dalam daftar penjualan tertinggi. Modelnya semakin beragam, mulai dari koko polos dengan detail bordir minimalis hingga motif etnik yang terinspirasi dari kain tradisional.
Rudi (41), pedagang busana Muslim di pusat perbelanjaan setempat, menjelaskan bahwa pembeli kini lebih memperhatikan kualitas bahan. “Orang tua tidak mau bahan yang panas atau kaku. Mereka pilih yang adem dan menyerap keringat karena anak-anak aktif bergerak,” tuturnya.
Rudi menambahkan bahwa banyak pelanggan membeli set lengkap agar praktis. Satu paket biasanya terdiri atas baju koko, celana panjang, dan peci. Dalam beberapa kasus, sarung instan juga menjadi pilihan untuk anak usia di atas tujuh tahun. “Kalau beli satu set, harganya lebih hemat. Itu yang membuat penjualan paket meningkat,” jelasnya.
Sementara itu, tunik dan set hijab praktis untuk anak perempuan usia sekolah dasar menjadi kategori ketiga yang paling laris. Model ini diminati karena fleksibel, bisa digunakan tidak hanya saat Lebaran tetapi juga untuk kegiatan mengaji atau acara keluarga lainnya.
Fitri (35), seorang ibu dua anak yang ditemui di salah satu toko busana, mengaku memilih tunik dengan hijab instan karena lebih mudah dipakai. “Anak saya belum terlalu pandai memakai hijab panjang. Kalau yang instan, lebih cepat dan tetap rapi,” ujarnya.
Tren meningkatnya pembelian pakaian anak bernuansa Muslim tidak lepas dari momentum Ramadan dan Idulfitri yang identik dengan tradisi mengenakan busana baru. Selain faktor budaya, aspek psikologis juga berperan.
Dosen Sosiologi Universitas Bengkulu, Dr. Mela Yustina, menjelaskan bahwa membeli pakaian baru untuk anak saat Lebaran menjadi simbol perhatian dan kebahagiaan keluarga. “Tradisi ini memperkuat ikatan emosional dalam keluarga. Anak merasa dihargai, orang tua merasa mampu memberikan yang terbaik,” katanya.