RADARMUKOMUKO.COM - Pagi yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi momen penuh ketidaknyamanan bagi sebagian ibu pasca melahirkan secara sesar. Di ruang perawatan, tangisan bayi bersahutan dengan raut wajah ibu yang tampak pucat dan lelah.
Tubuh belum sepenuhnya pulih, luka operasi masih terasa nyeri, sementara satu persoalan lain muncul tanpa banyak dibicarakan: sulit buang air besar atau eek yang terasa sangat berat dan melelahkan.
Kondisi ini kerap membuat ibu merasa tidak bertenaga, baik secara fisik maupun emosional.
Melahirkan melalui operasi sesar adalah tindakan medis yang dilakukan demi keselamatan ibu dan bayi. Prosedur ini melibatkan pembedahan pada dinding perut dan rahim, yang secara langsung memengaruhi fungsi tubuh setelah persalinan.
Salah satu dampak yang sering terjadi adalah gangguan pada sistem pencernaan, terutama konstipasi atau sulit buang air besar. Kondisi ini biasanya muncul dalam beberapa hari pertama setelah operasi, saat ibu masih menjalani masa pemulihan di rumah sakit maupun di rumah.
BACA JUGA:Bukan Karena Sering Ngintip, Ini Penyebab Mata Bintitan
BACA JUGA:Benahi Jalan Gerbang Masuk RSUD Mukomuko, Pemda Gelontor Rp 1,5 Miliar
Menurut dr. Maya Andriani, Sp.OG, dokter spesialis kebidanan dan kandungan, gangguan buang air besar pasca sesar merupakan keluhan yang sangat umum.
“Setelah operasi, tubuh mengalami stres fisiologis. Efek anestesi, obat pereda nyeri, serta keterbatasan gerak membuat kerja usus melambat.
Akibatnya, ibu merasa kembung, sulit mengejan, dan cepat kehabisan tenaga,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa rasa takut akan nyeri pada luka operasi juga membuat banyak ibu menahan keinginan buang air besar, sehingga masalah semakin berat.
Kondisi ini biasanya terjadi pada masa awal nifas, ketika tubuh masih beradaptasi setelah kehamilan dan pembedahan. Di ruang rawat pascaoperasi, aktivitas ibu sangat terbatas.
Posisi berbaring terlalu lama, asupan cairan yang belum optimal, serta pola makan yang berubah turut berkontribusi terhadap lambatnya pergerakan usus. Situasi ini membuat proses buang air besar terasa seperti beban tambahan di tengah pemulihan yang belum selesai.
Lingkungan perawatan juga memengaruhi kondisi mental ibu.