RADARMUKOMUKO.COM - Di sebuah meja makan, suasana hangat sering tercipta dari obrolan ringan yang mengalir bersamaan dengan suapan demi suapan. Kebiasaan berbincang saat makan terasa wajar, bahkan dianggap bagian dari kebersamaan.
Namun di balik kebiasaan tersebut, terdapat anjuran lama yang kerap diabaikan: makan sebaiknya dilakukan dengan tenang, tanpa terlalu banyak bicara. Anjuran ini bukan sekadar etika, melainkan berakar pada pertimbangan kesehatan dan keselamatan yang relevan hingga hari ini.
Dalam praktik keseharian, makan adalah aktivitas biologis yang melibatkan koordinasi kompleks antara mulut, tenggorokan, dan sistem pencernaan. Saat seseorang fokus mengunyah dan menelan, tubuh bekerja secara sinkron untuk memastikan makanan masuk ke saluran cerna dengan aman.
Gangguan kecil, termasuk berbicara saat mulut masih berisi makanan, dapat mengacaukan koordinasi tersebut. Kondisi inilah yang membuat risiko tersedak menjadi lebih besar, terutama pada anak-anak dan lansia.
Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, menjelaskan bahwa proses menelan membutuhkan konsentrasi otot dan refleks yang baik. Ketika seseorang berbicara sambil makan, saluran napas bisa terbuka pada saat yang tidak tepat.
“Makanan berpotensi masuk ke saluran pernapasan, bukan ke kerongkongan. Ini yang menjadi awal tersedak,” ujarnya dalam sebuah wawancara kesehatan. Meski terlihat sepele, tersedak dapat berujung fatal bila tidak segera ditangani.
Selain aspek keselamatan, berbicara saat makan juga berpengaruh pada kualitas pencernaan. Mengunyah adalah tahap awal yang sangat penting, karena di sanalah makanan dihaluskan dan dicampur dengan enzim dalam air liur.
Ketika seseorang terlalu sering berbicara, proses mengunyah menjadi tidak optimal. Makanan yang masuk ke lambung dalam ukuran besar akan memaksa organ pencernaan bekerja lebih keras, meningkatkan risiko gangguan seperti kembung dan rasa tidak nyaman.
Dari sudut pandang fisiologis, tubuh sebenarnya memberi sinyal alami untuk fokus saat makan. Rasa lapar, aroma makanan, dan tekstur di mulut membantu otak mengatur rasa kenyang.
Saat perhatian terpecah oleh obrolan, sinyal tersebut kerap terabaikan. Akibatnya, seseorang cenderung makan lebih cepat atau bahkan berlebihan tanpa disadari. Kondisi ini dalam jangka panjang dapat memengaruhi pengendalian berat badan.
Ahli gizi klinik, dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, menilai kebiasaan makan sambil berbicara erat kaitannya dengan pola makan tidak sadar. Ia menyebut bahwa makan dengan penuh perhatian membantu seseorang mengenali kapan tubuh sudah cukup.
“Ketika makan dilakukan dengan tenang, tanpa distraksi termasuk bicara berlebihan, tubuh lebih mudah memberi sinyal kenyang,” jelasnya. Prinsip ini sejalan dengan konsep mindful eating yang kini banyak dianjurkan.
Dalam konteks sosial, anjuran untuk tidak berbicara saat makan kerap disalahpahami sebagai larangan total. Padahal, yang dimaksud bukanlah membungkam percakapan, melainkan mengatur waktu dan intensitasnya.
Berbicara setelah menelan makanan atau di sela-sela waktu makan tetap memungkinkan interaksi sosial berlangsung tanpa mengorbankan kesehatan. Dengan cara ini, kebersamaan tetap terjaga, sementara risiko dapat diminimalkan.