Penggunaan perangkap lalat buah juga menjadi cara alami yang semakin banyak diterapkan. Perangkap ini biasanya memanfaatkan atraktan berbahan metil eugenol atau bahan alami seperti campuran air gula dan fermentasi buah.
Perangkap dipasang di sekitar kebun untuk menarik lalat buah jantan, sehingga populasi dapat ditekan sebelum berkembang biak. Cara ini relatif murah, mudah dibuat, dan tidak mencemari lingkungan.
Di sisi lain, pemanfaatan pestisida nabati mulai mendapat perhatian. Ekstrak daun mimba, serai wangi, bawang putih, dan daun sirsak dikenal memiliki senyawa yang tidak disukai serangga.
Larutan ini dapat disemprotkan secara rutin pada tajuk pohon dan buah muda. Meski efeknya tidak secepat pestisida kimia, penggunaan rutin terbukti membantu menekan intensitas serangan. “Pestisida nabati bekerja lebih sebagai penolak dan pengganggu perilaku serangga, bukan membunuh secara instan,” jelas Dr. Suyanto.
BACA JUGA:Dari Simba Hingga Seblak: Inspirasi Nama Kucing Oren yang Unik dan Penuh Karakter!
BACA JUGA:Kandungan Nutrisi Hati Sapi: Vitamin, Mineral, dan Protein Tinggi!
Pengelolaan kebun yang seimbang juga berperan penting. Pohon mangga yang sehat, cukup nutrisi, dan tidak terlalu rimbun cenderung lebih tahan terhadap serangan hama.
Pemangkasan cabang secara berkala membantu sirkulasi udara dan cahaya matahari masuk ke dalam tajuk, sehingga kondisi mikroklimat tidak terlalu lembap. Lingkungan yang lebih kering membuat lalat buah kurang nyaman untuk berkembang.
Cara-cara alami ini menunjukkan bahwa pengendalian ulat buah mangga tidak selalu harus bergantung pada bahan kimia.
Dengan kombinasi sanitasi, pembungkusan buah, perangkap lalat, pestisida nabati, dan perawatan kebun yang baik, risiko ulatan dapat ditekan secara signifikan. Pendekatan ini bukan hanya menjaga kualitas buah, tetapi juga melindungi kesehatan petani, konsumen, dan lingkungan sekitar.*